Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pakar Hukum Adat Sebut Hari Kehakiman Momentum MA Menengok Kembali Hukum Lokal

📅 Jumat, 23 Feb 2024, 13:23 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pakar Hukum Adat Sebut Hari Kehakiman Momentum MA Menengok Kembali Hukum Lokal Doc: antarafoto
Ket. Prof. Dr. St. Laksanto Utomo, S.H., M.H

SEMARANG - Pakar hukum adat Profesor Laksanto Utomo mengharapkan Hari Kehakiman Nasional, 1 Maret 2024 nanti menjadi momentum Mahkamah Agung (MA) untuk menengok kembali hukum lokal masyarakat hukum adat dan mengevaluasi penegakan hukum di Tanah Air melalui putusan-putusan peradilan.

"Titik nadir kepercayaan masyarakat Indonesia kepada Mahkamah Agung (MA) melalui putusan-putusan yang tidak sesuai dengan masyarakat Indonesia, bahkan sangat melukai perasaan bagi pencari keadilan," kata Prof. Dr. St. Laksanto Utomo, S.H., M.H. di Semarang, Jumat (23/2).

Jika mengamati perkara yang bersinggungan dengan masalah masyarakat hukum adat terkait dengan pertambangan, pengembang perkebunan, dan properti, menurut Prof. Laksanto, para penegak hukum selalu berpegang pada hukum positif legalistik dan peraturan tertulis serta peraturan-peraturan baku.

"Karena berpegangan pada hukum positif legalistik, niscaya masyarakat hukum adat akan terpinggirkan, bahkan akan punah dari peradaban di Indonesia," kata Ketua Umum Asosiasi Pengajar Hukum Adat (APHA) Guru Besar Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) ini.

Prof. Laksanto yang juga dosen Fakultas Hukum Universitas Sahid Jakarta memandang perlu MA melepas mindset legalistik positivistik dan harus menyelami hukum adat mereka yang memiliki hutan dan kepemilikan ulayatnya.

Dalam menjaga kelestarian keseimbangan alam semesta, kata dia, tentunya mereka tanpa memiliki surat-surat bukti formal. Bahkan, sejumlah putusan perkara tidak berpihak pada kepemilikan atau perkara-perkara terkait dengan masyarakat hukum adat.

Namun, diakuinya bahwa peran hukum adat dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP baru) sangat kecil. Meski demikian, KUHP memberikan atau mengembalikan hukum yang bersumber pada kearifan lokal dan mengembalikan keseimbangan dengan mengangkat hukum adat.

Prof. Laksanto mengemukakan bahwa teritorial Indonesia yang begitu luas dengan beragamnya adat istiadat dan masyarakat adat yang masih patuh untuk penegakan hukum adat sesuai dengan kearifan lokal masing-masing akan sangat mempermudah penegakan hukum di Tanah Air.

"Hari Kehakiman Nasional adalah waktunya berintrospeksi berpaling pada hukum lokal demi menjaga kelestarian kekayaan alam Indonesia untuk cucu masa mendatang," kata peneliti pada Lembaga Studi Hukum Indonesia (LSHI) ini.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Uji Coba Pendaratan Pesawat...
Megapolitan
Daftar Lokasi Samsat Kelili...
Megapolitan
Urus SIM Tak Repot Lagi, Ad...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.