Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Anak Autis Kerap Menghadapi Stigma, Bagaimana Seharusnya Memperlakukan Mereka?

📅 Kamis, 18 Jan 2024, 13:29 WIB | Oleh: Tim Penulis

Tak dipungkiri bahwa anak autistik harus menjalani serangkaian terapi dan juga latihan agar dapat mandiri dalam keseharian. Namun, individu autistik memiliki kondisi yang khas yang tidak sama satu dengan lain. Maka dari itu, kategorisasi autis juga mesti dipandang secara bijak.

Autistik non verbal, misalnya, dianggap berada pada kategori yang parah, padahal beberapa autistik non verbal justru menunjukkan keterampilan dan dapat menyelesaikan tugas dengan baik. Ada pula autistik yang dapat berkomunikasi secara verbal, namun masih memiliki tantangan sensori seperti peka terhadap suara dan tidak nyaman di keramaian.

Salah satu penentuan kriteria autisme terbaru memakai Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) yang disusun oleh Asosiasi Psikiatri Amerika. Tujuannya agar terdapat satu sistem klasifikasi diagnostik. DSM-5 ini dianggap sebagai kemajuan dari DSM sebelumnya yang merinci autisme ke dalam beberapa kategori. Pada DSM-5 ini, autisme dengan berbagai gejala digambarkan berada pada payung besar yang disebut dengan spektrum autisme.

Penerimaan

Kondisi individu autistik sering kali dilihat sebagai keanehan alih-alih perbedaan. Pendekatan dan model medis dalam penanganan anak autis lebih cenderung melihat mereka sebagai sebuah kekurangan dan memandang anak autis sebagai sesuatu yang harus diperbaiki, bukan bagian dari kepribadian atau jati dirinya.

Karena itu, kita memerlukan perspektif menyeluruh untuk memandang kondisi anak autistik dengan mengidentifikasi kebutuhan serta potensinya serta menyusun program layanan. Inklusifitas adalah cara pandang yang didasari oleh penerimaan. Jika penerimaan tidak dihadirkan, maka orang-orang yang terlibat di dalam proses tumbuh anak autis, seperti guru, keluarga bahkan orang tuanya sendiri, akan mengalami rasa frustasi berkepanjangan.

Di sisi lain, terdapat stigma di masyarakat yang masih memandang individu autistik sebagai kecacatan atau karma karena perbuatan buruk orang tuanya. Masyarakat juga kerap meragukan kapasitas orang tua ketika anak autisnya tidak mengalami perkembangan.

Perspektif inklusif ini nyatanya memang nyaris absen dalam ruang-ruang sosial kita. Berpandangan inklusif berarti dapat menerima, merangkul dan mengikutsertakan anak dengan autisme dalam kehidupan sehari-hari.

Kita membutuhkan sosialisasi dan advokasi untuk menciptakan penerimaan di masyarakat luas. Sebelum itu, penerimaan mesti hadir dari orang tua, kerabat hingga pihak yang dijadikan mitra oleh individu autistik.The Conversation

Arida Erwianti, Dosen, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Kusuma Negara

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Olahraga
Sabalenka Mengejar Kebangki...
Olahraga
Chelsea Menguji Formasi Ter...
Megapolitan
Rancangan Umum Sementara Pr...
Megapolitan
Ekspor Jakarta Tumbuh  4 Pe...

PSG Gandeng Google, Gemini Resmi Jadi Asisten AI Klub

1.5 jam yang lalu | Benny Mudesta Putra

Olahraga
PSG Gandeng Google, Gemini ...

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.