Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tim Peneliti Ungkap Misteri di Balik Kepunahan Kera Raksasa

📅 Jumat, 12 Jan 2024, 18:21 WIB | Oleh: Tim Penulis

Lewat bukti lebih lanjut dari serbuk sari, fauna, dan isotop yang stabil, tim itu merekonstruksi sejarah kepunahan kera itu.

Kera raksasa itu hidup di hutan yang lebat antara 2,3 juta dan 700.000 tahun silam, namun dalam 400.000 tahun berikutnya, lingkungan tersebut berubah menjadi lebih musiman, sehingga habitat yang mereka sukai menjadi lebih langka dengan tanaman nonkayu mulai meluas, yang menandai kepunahan G blacki.

Menghadapi tekanan untuk bertahan hidup semacam itu, orang utan beradaptasi lewat ukuran, perilaku, dan preferensi habitat mereka. Namun, mengapa makhluk yang begitu perkasa tersebut gagal di saat primata lain bisa bertahan?

Tim itu menganalisis elemen jejak dan tekstur keausan mikro pada gigi G blacki dan orang utan. "Gigi memberikan wawasan yang mengejutkan terkait perilaku spesies yang mengindikasikan stres, keragaman sumber makanan, dan perilaku berulang," tutur Renaud Joannes-Boyau dari Southern Cross University di Australia, yang juga salah satu penulis utama makalah tersebut.

Hasil tersebut mengungkap bahwa G blacki mengandalkan makanan cadangan yang kurang bergizi dan berserat tinggi, seperti buah dan bunga, kendati jenis makanan itu sulit ditemukan kala itu, sehingga menurunkan keragaman makanan.

Spesies yang memilih-milih soal makanan itu juga dihadapkan dengan penyusutan area mencari makan, sehingga populasinya menurun. Sebagai perbandingan, analisis dental menunjukkan bahwa spesies adaptif yang lebih lincah seperti orangutan berhasil mencari lebih banyak sumber makanan dan membentuk ceruk ekologis baru, urai Zhang dalam sebuah konferensi pers pada Rabu (10/1).

Selain itu, tubuh G blacki membesar selama evolusinya dengan alasan yang masih belum jelas, sehingga memperburuk stres kronis akibat kekurangan makanan, imbuh Zhang.

"Menjajaki penyebab kepunahan di masa lalu yang belum terselesaikan memberikan kami titik awal yang baik untuk memahami daya tahan primata dan nasib hewan besar lainnya, di masa lalu dan masa mendatang," ujar Westaway. Ant/Xinhua/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Taman Safari Prigen Perkena...
Ekonomi
Rupiah Tembus Rp18.000 per ...
Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.