Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pemanasan Suhu Bumi Sentuh 2°C pada November, Apa yang Sedang Terjadi?

📅 Kamis, 23 Nov 2023, 11:58 WIB | Oleh: Tim Penulis

3. Es Laut Antartika gagal pulih

Penurunan es Laut Arktik sudah diketahui secara luas. Namun, kini es Laut Antartika juga gagal pulih. Biasanya, lingkaran air laut beku di sekitar benua es mencapai batas maksimumnya pada September. Namun, luas lingkaran maksimum tahun ini jauh di bawah tahun sebelumnya.

Saat memasuki musim panas, akan lebih banyak air yang berwarna gelap. Permukaan yang gelap akan menyerap lebih banyak panas, sedangkan permukaan yang putih memantulkannya. Ini menandakan lebih banyak panas yang akan masuk ke lautan dibandingkan kembali ke angkasa.

4. Peningkatan aktivitas Matahari

Matahari beroperasi dalam siklus sekitar 11 tahun, dengan keluaran yang lebih rendah dan lebih tinggi. Suhu maksimum matahari diperkirakan terjadi pada 2025 dan peningkatan nyata terjadi tahun ini. Fenomena tersebut menciptakan aurora yang spektakuler--bahkan di Belahan Bumi Selatan, tempat penduduknya telah melihat aurora sampai ke daratan Ballarat, di Victoria, Australia.

Aktivitas maksimum matahari menambahkan panas ekstra. Namun, efeknya tidak banyak--hanya sekitar 0,05°C, atau setara sepertiga dari El Nino.

5. Letusan gunung berapi

Letusan gunung berapi biasanya mendinginkan planet ini karena gumpalan besar aerosol dari muntahan gunung menghalangi sinar matahari.

Namun letusan gunung berapi terbesar abad ini, di dekat Tonga, Polinesia, pada Januari 2022 justru berdampak sebaliknya. Ini karena gunung berapi Hunga Tonga-Hunga Ha'apai berada di bawah laut. Kekuatan ledakannya menguapkan sejumlah besar air laut. Sementara, uap air merupakan gas rumah kaca.

Beberapa orang skeptis bahwa letusan di Tonga menjadi penyebab utama lonjakan pemanasan global baru-baru ini, menganggapnya hanya kedipan semata. Namun, letusan ini akan menambah suhu diperkirakan 0,035°C selama sekitar lima tahun.

6. Berkurangnya polusi aerosol

Pada 2020, peraturan internasional baru mewajibkan bahan bakar pelayaran yang rendah sulfur. Pelaksanaan regulasi ini mengurangi emisi sulfur dioksida sekitar 10%.

Rendahnya emisi sulfur dioksida memang bagus untuk kesehatan. Namun, aerosol di atmosfer sebenarnya dapat menghalangi panas.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Olahraga
Sabalenka Mengejar Kebangki...
Olahraga
Chelsea Menguji Formasi Ter...
Megapolitan
Ekspor Jakarta Tumbuh  4 Pe...

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.