“The Ballad of Songbirds and Snakes', menilik masa muda Coriolanus Snow
📅 Minggu, 19 Nov 2023, 19:25 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA
Film terbaru hasil saduran serial novel The Hunger Games karya Suzanne Collins, The Hunger Games: The Ballad of Songbirds and Snakes, rilis di Indonesia bulan ini. Film ini merupakan prekuel dari empat film The Hunger Games sebelumnya.
Film bertema distopia garapan sutradara Francis Lawrence ini menceritakan masa muda Coriolanus "Coryo" Snow (Tom Blyth) saat dan setelah ia menimba ilmu di Academy, perguruan paling prestisius di Capitol, jantung negara Panem.
Awal film berdurasi 157 menit tersebut menggambarkan Coryo sebagai harapan terakhir keluarga Snow setelah ayahnya, Jenderal Crassus Snow, tewas dalam perang saudara yang hampir menghancurkan Panem.
Ia tinggal bersama sepupunya, Tigris (Hunter Schafer), dan neneknya yang mereka panggil Grandma'am (Fionnula Flanagan). Mereka digambarkan hidup melarat dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya tempat tinggalnya.
Digadang-gadang menjadi siswa terbaik Academy, Snow muda rupanya harus menghadapi lagi satu tantangan: menjadi mentor bagi tribut yang dikirimkan dari setiap distrik di Panem. Snow lantas ditunjuk menjadi mentor bagi Lucy Gray Baird (Rachel Zegler) dari Distrik 12.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menyadari dirinya harapan terakhir yang dapat mengembalikan kejayaan keluarga Snow, Coriolanus amat mantap bahwa dia harus membuat Baird memenangi Hunger Games ke-10, bagaimanapun caranya. Dalam petualangannya, Snow didampingi teman baik satu akademinya, yaitu Sejanus Plinth (Josh Andrés Rivera) yang lantang menolak Hunger Games.
Narasi film kemudian mengalir menggambarkan seberapa jauh upaya yang Snow muda rela lakukan untuk membuat Baird menang dan, setelahnya, sejauh apa tindakan yang ia dapat lakukan demi menonjolkan dirinya setelah diperintahkan mengabdi kepada negara sebagai peacekeeper di Distrik 12 selama 20 tahun.
Film ini memperkenalkan kita dengan tokoh-tokoh yang membentuk Coriolanus, seperti sutradara Hunger Games yang disebut Head Gamemaker, Dr Volumnia Gaul (Viola Davis), yang tidak berperikemanusiaan dan penggagas intelektual Hunger Games, Casca Highbottom (Peter Dinklage), yang amat membenci Coriolanus.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski sudah diketahui dari film-film sebelumnya kalau Hunger Games diciptakan sebagai hukuman kepada distrik-distrik yang memberontak terhadap Capitol, film ini juga membuka tabir tentang bagaimana gelanggang jagal itu rupanya muncul hanya dari hal yang sangat sederhana.
Pelengkap
The Hunger Games: The Ballad of Songbirds and Snakes menjadi pelengkap dari empat film The Hunger Games sebelumnya, yaitu The Hunger Games (2012), The Hunger Games: Catching Fire (2013), The Hunger Games: Mockingjay - Part 1 (2014), dan The Hunger Games: Mockingjay - Part 2 (2015).
Film ini berhasil menghadirkan visual yang amat menarik dan beragam, mulai dari brutalnya arena Hunger Games tempat para tribut bertarung sampai mati hingga suburnya daerah hijau di Distrik 12 di mana Coryo, Baird, dan teman-temannya menghabiskan waktu senggang.
Tergambarkan pula primitifnya sistem, senjata, dan gelanggang Hunger Games ke-10 yang mengingatkan kita dengan Koloseum di Roma, tempat di mana para gladiator saling bunuh di hadapan penonton yang bersorak.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!