Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Lonjakan Belanja Subsidi Pupuk Harus Hasilkan Ketahanan Pangan yang Berkelanjutan

📅 Jumat, 18 Jul 2025, 01:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Lonjakan Belanja Subsidi Pupuk Harus Hasilkan Ketahanan Pangan yang Berkelanjutan Doc: istimewa
Ket. Esther Sri Astuti Direktur Eksekutif Indef - Indonesia yang masih bergantung pada impor pupuk fosfat dan NPK, menghadapi risiko gejolak harga dan beban fiskal yang meningkat, subsidi pupuk naik 63,1 persen secara year on year (yoy).

JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) dalam monitoring issue baru-baru ini menyatakan tekanan harga pada sektor pangan dan input pertanian menunjukkan arah yang berlawanan pada semester I-2025. Pupuk mengalami lonjakan signifikan akibat konflik Timur Tengah, sementara harga pangan global cenderung menurun.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengatakan konflik Iran-Israel memicu kekhawatiran gangguan pasokan melalui Laut Merah dan Selat Hormuz, mendorong harga pupuk global naik tajam (DAP 715 dollar Amerika Serikat (AS) per ton dan urea 420 dollar AS per ton.

“Indonesia yang masih bergantung pada impor pupuk fosfat dan NPK, menghadapi risiko gejolak harga dan beban fiskal yang meningkat, subsidi pupuk naik 63,1 persen secara year on year (yoy). Di sisi lain, harga pangan global (beras, gandum, minyak nabati) justru melemah, yang mencerminkan overstock dan pelemahan permintaan,”terang Esther.

Di dalam negeri jelasnya, produksi dan surplus beras meningkat, namun tidak otomatis menurunkan harga di konsumen akibat masalah distribusi dan efektivitas intervensi. Produksi beras domestik Januari-Juni 2025 naik 14,9 persen secara yoy, surplus pun meningkat menjadi 3,33 juta ton, dan harga gabah menguat di tingkat petani.

Namun demikian, transmisi harga masih tersendat di mana harga beras tetap tinggi di seluruh zona eceran karena lambatnya penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan keterlambatan intervensi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

“Kebijakan deregulasi pupuk menunjukkan efektivitas awal dalam mempercepat distribusi ke petani, namun pengawasan perlu diperkuat agar lonjakan belanja subsidi benar-benar menghasilkan ketahanan pangan yang berkelanjutan, bukan sekadar respons jangka pendek,”ungkap Esther.

Tekanan Panjang

Sementara itu, harga komoditas energi utama Indonesia mengalami tekanan sepanjang awal 2025. Harga batubara anjlok hingga di bawah 100 dollar AS per ton, harga minyak sempat melonjak akibat konflik Timur Tengah sebelum kembali menurun, dan harga LNG global melemah seiring melimpahnya pasokan. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kinerja ekspor dan penerimaan negara, terutama dari sektor minerba dan migas.

Di sisi fiskal katanya, penurunan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan penerimaan pajak migas menandakan kerentanan jangka pendek yang perlu diantisipasi. Sementara di tingkat daerah, provinsi dengan ketergantungan tinggi pada sektor tambang mulai menghadapi tekanan terhadap kapasitas fiskal, menegaskan urgensi diversifikasi ekonomi dan reformasi tata kelola pendapatan berbasis sumber daya alam.

Di tengah tekanan sektor komoditas, peluang baru muncul dari rencana ekspor listrik bersih ke Singapura. Kesepakatan ekspor hingga 3,4 giga watt (GW) berpotensi menghasilkan devisa hingga 6 miliar dollar AS per tahun dan membuka jalan bagi tumbuhnya industri hijau di kawasan Batam Bintan dan Karimun.

“Perbedaan harga listrik yang signifikan antara Indonesia dan Singapura menciptakan insentif kuat bagi investor. Namun demikian, kepastian tata kelola ekspor, kejelasan skema Domestik Market Obligation (DMO) untuk energi bersih, serta koordinasi antar-lembaga menjadi prasyarat penting agar potensi ekonomi lintas batas itu dapat direalisasikan secara berkelanjutan,” kata Esther.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Daerah
Kemeriahan Gebyar PAUD Yogy...
Megapolitan
Pelatihan Mengemudi Becak L...
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.