Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Petani Wajib Perhatikan Ini, BRIN Ingatkan Dampak Buruk Pemakaian Pestisida Sintetis

📅 Kamis, 09 Nov 2023, 00:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Petani Wajib Perhatikan Ini, BRIN Ingatkan Dampak Buruk Pemakaian Pestisida Sintetis Doc: ANTARA/Ahmad Subaidi
Ket. Petani menyemprotkan pestisida ke tanaman padi di persawahan Jalan Lingkar Selatan, Mataram, NTB, Kamis (23/2/2023).

Jakarta - Petani wajib perhatikan ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan bahwa pemakaian pestisida sintetis dapat memicu berbagai dampak buruk mulai dari tumpukan residu di dalam tubuh hingga resistensi organisme pengganggu tanaman.

"Pestisida sintetis banyak menimbulkan permasalahan berkelanjutan baik kepada petani itu sendiri maupun kepada lingkungan," kata Periset Hortikultura dan Perkebunan BRIN Wiratno di Jakarta, Rabu.

Wiratno menuturkan petani yang menyemprot tanaman lada dengan pestisida sintetis dengan pakaian seadanya, tanpa masker, dan tanpa kacamata sangat mudah terpapar residu pestisida.

Penelitian yang dia lakukan menunjukkan bahwa petani yang mengendalikan organisme pengganggu tanaman pada 200 tanaman lada itu residu pestisida pada darah meningkat tiga kali lipat. Sedangkanresidu pestisida pada urine sampai 200 kali lipat.

"Ini bisa dibayangkan betapa bahayanya dalam jangka panjang," kata Wiratno.

Kasus pemakaian pestisida sintetis pernah menimbulkan masalah serius bagi ketahanan pangan di Indonesia. Hama wereng batang cokelat menjadi resisten akibat insektisida kimia.

Pada tahun 1978, wereng batang cokelat menyerang lahan persawahan seluas 750 ribu hektare yang menyebabkan petani kehilangan hasil panen sekitar 4,5 juta ton atau setara Rp20 triliun. Pemerintah melakukan pelarangan terhadap 57 nama dagang insektisida.

"Hasil penelitian diketahui bahwa 57 nama dagang itu menyebabkan resistensi wereng cokelat, sehingga dilarang untuk diedarkan," kata Wiratno.

Lebih lanjut dia mengungkapkan petani masih kurang meminati pemanfaatan musuh alami dalam mengendalikan organisme pengganggu tanaman.

"Pengendalian hayati kurang diminati karena efekknock downrelatif tidak ada, mortalitas serangga sangat lambat, tingkat kerusakan tanaman relatif tinggi, dan sangat terpengaruh lingkungan," katanya.

Kepala Pusat Hortikultura dan Perkebunan BRIN Dwinita Wikan Utami mengatakan konsumen semakin peduli terhadap dampak residu pestisida karena dapat mencemari tanah, air, udara, dan produk pertanian lain.

"Sebenarnya, pasar sekarang sudah mulai menerapkan ramah lingkungan. Jadi, yang dicari produk-produk yang memang residunya minimal," kataDwinita.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp84.400/...
Daerah
Bus Transjateng Akan Tambah...

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

57 menit yang lalu | Lili Lestari

Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
Nasional
Grab Tegaskan Rumor Hengkan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.