Demo Buruh di Bangladesh Rusuh, Produksi Merek Fesyen Ternama Terhenti
📅 Sabtu, 04 Nov 2023, 09:35 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/Munir uz Zaman
DHAKA - Sebanyak 3.500 pabrik garmen di Bangladesh menyumbang sekitar 85 persen dari ekspor tahunan negara Asia Selatan itu senilai 55 miliar dolar AS yang memasok banyak perusahaan fesyen ternama dunia
Namun kondisinya sangat buruk bagi empat juta pekerja yang sebagian besar perempuan di sektor ini. Mereka hanya diupah mulai dari 8.300 taka (75 dolar AS) per bulan.
Puluhan pabrik dijarah oleh para pekerja yang mogok, dan beberapa ratus pabrik lainnya ditutup oleh pemiliknya untuk menghindari vandalisme.
Di antaranya adalah "pabrik besar yang memproduksi pakaian untuk hampir semua merek dan pengecer besar Barat," Kalpona Akter, presiden Federasi Pekerja Garmen dan Industri Bangladesh (BGIWF), mengatakan kepada AFP.
"Mereka antara lain Gap, Walmart, H&M, Zara, Inditex, Bestseller, Levi's, Marks and Spencer, Primark dan Aldi," imbuhnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seorang juru bicara Primark mengatakan, pengecer fast fashion yang berkantor pusat di Dublin itu tidak "mengalami gangguan apa pun pada rantai pasokan kami".
"Kami tetap berhubungan dengan pemasok kami, beberapa di antaranya telah menutup sementara pabrik mereka. Sementara kerusuhan terus berlanjut," katanya.
Produsen yang pabriknya dirusak akibat protes enggan menyebutkan nama merek yang bekerja sama dengannya karena khawatir kehilangan pesanan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Polisi mengatakan setidaknya 300 pabrik ditutup selama aksi protes satu minggu. Dua pekerja tewas dan puluhan lainnya terluka dalam aksi tersebut.
Akter mengatakan pihaknya menghitung ada sekitar 600 pabrik yang terkena dampak.
Protes berlanjut pada hari Jumat, ribuan pekerja garmen melakukan mobilisasi di jalan-jalan kawasan industri di sekitar ibu kota Dhaka.
Sekitar 3.000 pekerja berusaha menghalangi rekan-rekan mereka untuk bergabung dalam shift pabrik setelah dua produsen besar - kelompok HaMeem dan Sterling - membuka kembali pabrik mereka.
"Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan para pengunjuk rasa," kata seorang inspektur polisi yang bertugas memantau protes, yang berbicara tanpa menyebut nama, kepada AFP.
"Kedua perusahaan menyatakan hari libur pada hari itu dan 25.000 pekerjanya dipulangkan."
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!