Dampak Buruk El Nino Bagi Satwa liar Indonesia, dari Kodok hingga Komodo
📅 Kamis, 02 Nov 2023, 16:00 WIB | Oleh: Tim PenulisOwa Jawa merupakan primata langka yang berisiko terimbas tekanan ini. Pasalnya, Owa tidak bisa melahap pakan daun dan biji-bijian, hanya buah-buahan.
Selain persoalan pakan, kesehatan primata juga terdampak langsung kebakaran hutan yang mengganas lantaran El Nino. Studi terbaru menyebutkan asap kebakaran menyebabkan suara orang utan menjadi parau dan diduga mengalami peradangan saluran pernapasan. Ini menjadi berita buruk, apalagi bila terjadi pada orang utan tapanuli yang populasinya tinggal 800 ekor.
Cuaca panas juga dapat membalikkan upaya konservasi kadal purba komodo yang selama ini berjalan positif. El Nino dapat mematikan pohon-pohon sehingga anak-anak komodo kian rentan dimangsa oleh komodo dewasa.
Saat ini, anak-anak komodo kerap memanjat pohon untuk menyelamatkan diri. Tanpa El Nino saja, hanya 1 dari 10 anak-anak komodo yang tumbuh dewasa. Bayangkan jika pada masa depan El Nino semakin kuat dan sering, anak-anak komodo yang bertahan hidup bisa semakin sedikit.
Sebaiknya Anda baca juga:
El Nino juga dapat memanaskan permukaan laut dan meningkatkan keasamannya sehingga dapat menyebabkan terumbu karang memutih, bahkan mati. Ini dapat mengancam ekosistem perairan Indonesia yang termasuk dalam Segitiga Karang Dunia sekaligus rumah bagi 1.100 dan 5.300 spesies flora dan fauna perairan.
Segera bertindak
Pemerintah sebaiknya menyediakan pendanaan cukup untuk meneliti dampak perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati. Pengetahuan kita mengenai dampak perubahan iklim di Indonesia sangat minim. Sementara, kerusakan habitat tersebut terus meningkat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai langkah awal, Indonesia harus menggenjot penelitian yang memprediksi dampak perubahan iklim terhadap kehidupan satwa liar. Pemanfaatan teknologi pemantauan, pelaporan, dan verifikasi berskala luas menggunakan teknologi seperti peraba jarak jauh optik (LiDAR) ataupun Sistem Informasi Geografis harus dilakukan.
Teknologi ini memungkinkan kita untuk mengetahui pola-pola aktivitas satwa liar bahkan secara langsung. Harapannya, jika otoritas cuaca meramalkan cuaca ekstrem akan terjadi, kita bisa bertindak cepat-berbasiskan data pemantauan-untuk mencegah dampak negatifnya bagi satwa liar.
Sistem pemantauan berbasis data ini jangan dibangun terpusat. Indonesia, dengan karakternya sebagai negara kepulauan, justru perlu memanfaatkan perguruan tinggi dan lembaga penelitian di daerah agar kegiatan pemantauan satwa liar tersebar di kawasan masing-masing.
Indonesia juga dapat meningkatkan penggalian materi biodiversitas untuk keperluan pangan, papan, obat-obatan, aromaterapi, kosmetik, dan lainnya dalam program pemanfaatan produk berbasis sumber daya hayati (bioprospecting) yang lebih terencana. Penggalian materi biologi juga perlu dilakukan bekerja bersama masyarakat adat, agar mereka dapat memanfaatkan material genetik dengan baik. Selain itu bioprospecting perlu digalakkan di berbagai perguruan tinggi di dalam negeri khususnya dan kalau perlu saja dengan perguruan tinggi luar negeri.
Indonesia juga dapat menjajaki sistem kredit biodiversitas, artinya memberi kredit bagi pelestarian keanekaragaman hayati. Kredit ini dapat dijual ke perusahaan untuk menebus aktivitasnya yang berdampak pada biodiversitas. Dana hasil penjualan kemudian bisa kita gunakan untuk memperkuat usaha pelestarian flora dan fauna di tanah air.
Tanggal 5 November adalah Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Semoga peringatan hari ini dapat memicu kita untuk tidak sekadar 'menunggu' dampak perubahan iklim, tapi aktif bertindak untuk mencegah dampaknya bagi seluruh kehidupan liar di Indonesia.![]()
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!