Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Raja Charles Kunjungi Kenya, Seruan Permintaan Maaf Meluas

📅 Selasa, 31 Okt 2023, 11:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Raja Charles Kunjungi Kenya, Seruan Permintaan Maaf Meluas Doc: Daily Mail
Ket. Pangeran Charles bersama anggota militer Kenya dan pemandu lokal saat ambil bagian dalam safari empat hari ke Ngare Valley di Kenya pada Februari 1971.

NAIROBI - Raja Charles III memulai kunjungan kenegaraan ke Kenya pada Selasa (31/10). Ia akan dihadapkan pada seruan meminta maaf atas kolonialisme Inggris di masa lalu.

Meskipun perjalanan empat hari Raja Charles dan Ratu Camilla dianggap sebagai kesempatan untuk menatap masa depan dan membangun hubungan kuat antara London dan Nairobi, warisan pemerintahan kolonial Inggris selama beberapa dekade masih terlihat jelas.

Kunjungan ini merupakan yang pertama bagi raja Inggris berusia 74 tahun ke negara Afrika dan persemakmuran sejak naik takhta pada September tahun lalu setelah mangkatnya Ratu Elizabeth II.

Komisi Tinggi Inggris mengatakan, kunjungan setelah Jerman dan Prancis pada awal tahun ini, akan "menyoroti kemitraan yang kuat dan dinamis antara Inggris dan Kenya".

Namun mereka juga akan "mengakui aspek-aspek yang lebih menyakitkan" dari hubungan historis Inggris dengan Kenya ketika negara Afrika Timur itu bersiap merayakan 60 tahun kemerdekaannya pada Desember mendatang.

Termasuk peringatan masa "Darurat" pada 1952-60, ketika pemerintah kolonial memberlakukan keadaan darurat sebagai respons atas pemberontakan gerilya Mau Mau, salah satu peristiwa pemberontakan paling berdarah terhadap pemerintahan Inggris.

Setidaknya 10.000 orang -- sebagian besar dari suku Kikuyu -- terbunuh, meskipun beberapa sejarawan dan kelompok hak asasi manusia mengklaim angka sebenarnya lebih tinggi.

Puluhan ribu orang lainnya ditangkap dan ditahan tanpa diadili di kamp-kamp. Laporan mengenai eksekusi, penyiksaan dan pemukulan kejam sering terjadi di sana.

Kunjungan kerajaan ini juga terjadi ketika tekanan meningkat di beberapa negara Persemakmuran Karibia untuk tidak lagi menjadikan raja Inggris sebagai kepala negara, dan ketika suara-suara republik di Inggris semakin keras.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
Surabaya Siapkan Sensor Pem...
Ekonomi
BNI Private Dinobatkan seba...
Advertisement
Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.