Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Vaksin '2 in 1' Flu dan Covid-19 Pfizer Segera Uji Coba Tahap Akhir

📅 Senin, 30 Okt 2023, 00:17 WIB | Oleh:

Pfizer bukan satu-satunya perusahaan yang mempelajari kombinasi vaksin flu dan Covid-19. Moderna yang berbasis di AS juga sedang mengerjakan satu vaksin, dan memberikan vaksin kepada peserta pertamanya dalam uji klinis fase tiga pada Selasa lalu.

Meskipun Covid-19 tidak lagi dianggap sebagai darurat kesehatan masyarakat, para ahli terus memperingatkan individu dan pemerintah agar tidak berpuas diri.

Dosen tamu di Fakultas Kedokteran Yong Loo Lin Universitas Nasional Singapura, Tikki Pangestu, yang juga berbicara pada kunjungan pendidikan media Pfizer, mengatakan, kekhawatiran terhadap situasi tersebut adalah dalam beberapa bulan mendatang, dan mungkin tahun mendatang, akan ada sedikit pelaporan tentang Covid-19.

"Saya rasa hal ini sudah terjadi. Dengan hilangnya drama pandemi dan pihak berwenang menyatakan bahwa Covid-19 adalah penyakit endemik, sama seperti flu biasa, kekhawatiran utama pun dimulai," ujarnya.

"Pemerintah, ketika mereka berpikir keadaan darurat telah berakhir, maka mereka akan mundur. Itu adalah hal terburuk yang bisa Anda lakukan, pergi dan membongkar infrastruktur yang telah mereka bangun, karena pandemi berikutnya adalah pertanyaan 'kapan'. Ini bukan pertanyaan 'jika'. Melacak varian tersebut masih sangat penting, namun pengawasan dan pelaporan telah menurun," tambahnya.

Covid-19 tetap menjadi prioritas kesehatan masyarakat utama di seluruh dunia, dengan sekitar 700 juta kasus dan enam juta kematian sejauh ini. Jumlahnya masih terus meningkat, dengan sekitar 700.000 kasus baru setiap harinya di Amerika Serikat saja.

"Varian baru berpotensi meningkatkan penyebaran virus, dan mungkin penyakit yang parah, bahkan pada populasi yang sudah memiliki kekebalan sebelumnya. Kita berharap hal itu tidak terjadi, tapi (virusnya) tidak bisa diprediksi dan bisa memberikan kejutan yang tidak kita inginkan, sehingga vaksinasi tetap menjadi prioritas kesehatan masyarakat," kata Pangestu.

Dokter penyakit menular Leong Hoe Nam dari Klinik Rophi di Singapura, yang juga berbicara selama kunjungan tersebut, mengatakan "orang yang tidak melakukan vaksinasi" telah menjadi korban dari keragu-raguan terhadap vaksin dan informasi yang salah.

"Mereka menggunakan kata 'ahli' untuk mendukung narasi mereka; lingkaran kecil ini yang mengatakan masyarakat dipaksa untuk divaksinasi. Saya tidak percaya dengan memaksa orang untuk melakukan vaksinasi, tapi kita perlu membuat perekonomian berjalan, kita perlu membuat negara ini maju," katanya.

Leong mengatakan dalam fase "endemik" ini, lahan masih subur untuk terjadinya infeksi dan miskomunikasi, dengan informasi atau misinformasi yang datang dari media sosial, sehingga menimbulkan keraguan terhadap vaksin.

Mengutip contoh wabah campak di Filipina pada tahun 2018, Pangestu mengatakan, ada banyak informasi yang salah selama periode tersebut, dan jumlah orang yang mendapatkan suntikan untuk melawan penyakit menular, seperti flu, pneumokokus, dan terutama campak, menurun.

Laporan 2022 di jurnal peer review mingguan Lancet mengungkapkan jumlah kasus campak yang dilaporkan di Filipina melonjak dari 2.428 pada tahun 2017, menjadi 20.827 pada 2018, dan 48.525 pada 2019.

"Ini adalah penyakit yang sepenuhnya dapat dicegah melalui vaksinasi, sehingga secara moral tidak dapat diterima," kata dia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Pekan Pertama Agustus, Harga Bensin Turun

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Ekonomi
Pekan Pertama Agustus, Harg...
Ekonomi
Pemerintah Dorong Lahirnya ...

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.