Tahan Rasa Sakit Terbayarkan Medali Emas
📅 Sabtu, 28 Okt 2023, 07:28 WIB | Oleh: Tim PenulisApa yang membuat Anda membatalkan niat tersebut?
Guru yang sering memotivasi saya. Dia bilang enggak cuma orang normal saja yang bisa berprestasi, orang seperti saya juga bisa menunjukkan yang terbaik untuk Indonesia. Akhirnya saya termotivasi.
Untuk sekarang ini apakah label cacat itu masih melukai hati Anda?
Kalau sekarang saya sudah berdamai dengan keadaan. Malah itu dijadikan bahan bercandaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagaimana awalnya bisa menekuni cabang olahraga atletik?
Waktu SMP juga saya paling menonjol dalam pelajaran olahraga terutama di nomor lompat jauh. Lompatannya paling jauh di antara teman-teman lain. Untuk lari sprint waktu usia saya 16 tahun, ketika masih duduk di kelas satu SMK. Saya terus berlatih, ikut kejuaraan, dan akhirnya dipanggil ke pelatnas.
Kaki dan tangan kanan saya menderita layu. Lari sejauh 30 meter saja, saya akan mulai hilang keseimbangan. Namun, hal itu tak menahan saya untuk memilih jalan hidup sebagai atlet lari, cabang olahraga yang mengandalkan kekuatan kaki.
Sebaiknya Anda baca juga:
Semua berawal saat saya SMK. Guru olahraga saya--Bu Winda Prasepti, melihat kekurangan fisik saya, namun di saat bersamaan melihat potensi yang bisa dikembangkan dari kekurangan tersebut. Saya lantas dipertemukan dengan seorang pengurus atlet-atlet difabel di Jawa Tengah.
Lewat campur tangannya, saya mulai latihan di Solo untuk mengikuti Peparpenas (Pekan Paralympic Pelajar Nasional) di Bandung. Di ajang itu, saya meraih 5 medali emas.
Kemenangan itu membawa saya untuk dipanggil menjadi perwakilan Indonesia di Asean Para Games di Malaysia.
NPC (National Paralympic Committee) menjadi organisasi tempat saya bernaung. Pengurus NPC yang berhasil meyakinkan orang tua saya bahwa program latihan atletik di NPC merupakan suatu hal yang positif.
Orang tua akhirnya ikut mendukung, meskipun awalnya sempat terbebani bermacam kerisauan dan pertanyaan: Benarkah NPC melakukan sesuai yang dijanjikan? Mereka sampai sering datang untuk melihat saya berlatih langsung, untuk melihat anaknya yang berada di bawah tanggung jawab NPC.
Sebelum ikut paralympic, saya sempat dihantui rasa minder. Semasa sekolah, teman-teman mengucilkan saya, kekurangan fisik saya sering diejek, saking seringnya hingga saya bolos sekolah satu minggu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!