Dana Asing Mulai Tinggalkan Pasar Indonesia

Senin, 23 Okt 2023, 00:04 WIB

» Fundamental ekonomi Indonesia belum sepenuhnya ditopang oleh ekspor dan investasi.

» BI tidak punya pilihan selain terus mengintervensi pasar dengan melepas cadangan dollar AS supaya kurs rupiah stabil.

Ket. Foto: — Sumber: Sumber: DJPPR, Kemenkeu –Litbang KJ/and - KJ/ONES

JAKARTA - Dana asing yang selama ini ditempatkan di portofolio keuangan Indonesia baik di pasar modal maupun di Surat Berharga Negara (SBN) secara perlahan mulai keluar. Keluarnya dana asing tersebut karena meningkatnya sentimen negatif dari eksternal terutama ketidakstabilan keamanan global yang memicu investor memburu aset safe heaven khususnya dollar Amerika Serikat (AS).

Selain itu, pernyataan dari otoritas moneter Amerika Serikat (AS) Federal Reserve yang memberi sinyal masih akan melanjutkan kenaikan suku bunga makin memicu investor untuk memegang aset berdenominasi dollar. Selain lebih aman dari sisi risiko, juga menawarkan imbal hasil yang lebih menarik ketimbang tetap menempatkan di negara-negara emerging market seperti pasar keuangan RI.

Bank Indonesia (BI) sendiri pada akhir pekan lalu mencatat aliran modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik sebesar mencapai 5,36 triliun rupiah pada periode 16-19 Oktober 2023.

Jumlah tersebut terdiri dari dana asing yang keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) senilai 3,45 triliun rupiah dan dari pasar saham 3,01 triliun rupiah. Sedangkan modal asing yang masuk di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tercatat sebesar 1,1 triliun rupiah.

Dengan demikian, modal asing bersih yang masuk ke Indonesia sejak 1 Januari hingga 19 Oktober 2023 adalah senilai 51,45 triliun rupiah di pasar SBN dan 11,06 triliun rupiah di SRBI. Sedangkan modal asing yang sudah keluar dari pasar saham sudah mencapai 7,26 triliun rupiah.

BI juga menyatakan kalau premi risiko investasi atau premi credit default swaps (CDS) Indonesia untuk 5 tahun sebesar 100,83 basis poin (bps) per 19 Oktober 2023, naik dibandingkan per 13 Oktober 2023 yang tercatat sebesar 95,48 bps.

Nilai tukar rupiah pun pada pembukaan perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (20/10) melemah ke level 15.845 per dollar AS dari sebelumnya 15.810 per dollar AS pada penutupan perdagangan Kamis (19/10).

Sementara rupiah melemah, indeks dollar AS juga melemah ke level 106,25 pada akhir perdagangan Kamis (19/10).

Lebih lanjut disebutkan, imbal hasil atau yield SBN Indonesia tenor 10 tahun naik ke level 7,07 persen. Sementara itu, imbal hasil surat utang AS alias US Treasury Notes untuk tenor 10 tahun naik menjadi 4,99 persen.

"Slow Response"

Pengamat ekonomi dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, yang diminta pendapatnya mengatakan keluarnya dana asing itu karena BI yang slow response menaikkan tingkat suku bunga BI7 days Reverse Repo Rate.

"Secara umum, jika Federal Reserve menaikkan bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) biasanya selalu direspons dengan kenaikan suku bunga di Indonesia," kata Esther.

Hal itu dengan pertimbangan untuk mencegah aliran modal terbang ke negara yang tingkat suku bunganya lebih tinggi sehingga nilai tukar rupiah tetap stabil. "Apabila tingkat suku bunga acuan terlambat dinaikkan maka pasti akan terjadi capital flight," kata Esther.

Apalagi, fundamental ekonomi Indonesia belum sepenuhnya ditopang oleh ekspor dan investasi. Pertumbuhan ekonomi masih didominasi konsumsi rumah tangga yang rapuh.

Sebab itu, ke depan, dia mengimbau baik otoritas moneter maupun fiskal agar lebih responsif atas semua faktor mungkin terjadi dan mengguncang pasar global.

Intervensi Pasar

Dari Yogyakarta, pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y Sri Susilo, mengatakan keluarnya investor global dari pasar Indonesia adalah hal yang wajar mengingat kenaikan suku bunga the Fed yang lebih agresif.

"Saat the Fed naik terus, BI kan malah terus menjaga suku bunga dalam dua bulan dan baru menaikkan 0,25 basis poin pada awal bulan ini jadi 6 persen. Jadi, tentunya investor global melepaskan investasi rupiahnya dan menukarnya ke dollar AS," kata Susilo.

Akibatnya, dalam jangka pendek, BI tidak punya pilihan selain terus melakukan intervensi pasar dengan melepas cadangan dollar AS untuk membeli rupiah supaya nilai tukar bisa stabil.

"Setiap hari, BI memiliki pekerjaan rumah untuk terus melakukan stabilisasi rupiah dengan cadangan dollar. Pekan depan, awal November akan jadi tantangan bagi BI, dan menurut saya ada kemungkinan untuk menaikkan suku bunga. BI saya kira wait and see dan sekarang day per day harus intervensi pasar," jelas Susilo.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.