Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

DNA dari Kerangka Manusia Ungkap Riwayat Wabah Zaman Kuno

📅 Jumat, 20 Okt 2023, 06:10 WIB | Oleh:

Ketika penyakit tersebut mempunyai kemampuan untuk menginfeksi kutu, lalu menyebar dengan cepat, menyebabkan wabah penyakit pes yang paling mematikan yang disebut denganBlack Death, sebuah pandemi yang memusnahkan separuh populasi Eropa pada abad ke-14.

Mengubah Pandangan Lama

DNA kuno pun mengubah cara memandang penyakit serius lainnya yaitu sifilis. Sebelumnya diyakini, sifilis tiba untuk pertama kalinya di Eropa pada 1495 di Italia, tepat setelah Christopher Columbus kembali dari pelayaran pertamanya ke benua Amerika.

Penyakit menular seksual ini merajalela di kalangan infanteri Raja Charles VIII dari Prancis, yang saat itu berencana menaklukkan Kerajaan Napoli. Penyakit yang melemahkan ini kemudian dengan cepat menyebar ke seluruh Eropa.

Karena wabah ini terjadi tepat setelah kembalinya Columbus dan krunya dari pelayaran trans-Atlantik pertama mereka, sebagian besar sejarawan percaya bahwa sifilis menyebar ke Eropa dari tempat yang pada saat itu disebut sebagai "Dunia Baru".

Namun dukungan terhadap teori yang berbeda semakin meningkat. Pada 2020, Verena Schuenemann, seorang profesor ilmu arkeologi yang berafiliasi dengan Universitas Basel dan Universitas Zurich, memimpin tim yang mengekstraksi DNA dari sembilan individu yang tulangnya memiliki ciri khas lesi sifilis. Jenazahnya ditemukan dari pemakaman di Finlandia, Estonia, dan Belanda.

Para peneliti mendeteksi setidaknya tiga jenisTreponema pallidum, patogen penyebab sifilis, serta penyakit lain seperti frambusia yang hanya ditemukan di daerah tropis. Penanggalan karbon pada kerangka dan peti mati mengkonfirmasi bahwa individu-individu tersebut meninggal antara awal hingga akhir abad ke-15, menunjukkan bahwa sipilis sudah beredar di Eropa sebelum Columbus kembali dari pelayaran perdananya.

Perhitungan berdasarkan tingkat mutasi bakteri sifilis juga menunjukkan bahwa asal muasal penyakit ini sudah ada sebelum kedatangan Columbus. "Kami tahu bahwa penyebaran patogen berhubungan dengan jalur perdagangan," kata Schuenemann. "Kami melihat bahwa dengan penyakit sifilis, wabah penyakit, dan kusta setiap kali manusia mulai melakukan perjalanan dan berdagang, hal tersebut juga membawa peluang bagi patogen untuk berpindah," tutur dia.

DNA mikroba dapat memberi tahu banyak hal tentang sejarah pandemi kuno. Meskipun DNA mengalami degradasi seiring berjalannya waktu, para peneliti telah mengurutkan genom mamut berbulu yang hidup satu juta tahun lalu.

Namun kemungkinan besar sebelum sekitar 12.000 tahun yang lalu ketika manusia mulai bertani, manusia belum cukup sering melakukan kontak sehingga dapat menyebabkan pandemi. "Anda memerlukan sejumlah manusia untuk benar-benar menularkan penyakit, jadi kita cenderung melihat penyakit-penyakit ini muncul bersamaan dengan kota-kota besar. Saat masyarakat mulai menetap, saat itulah pandemi melanda," kata Schuenemann. hay/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Polres Metro Bekasi Kota Be...
Nasional
PT KAI Tutup 116 Perlintasa...
Ekonomi
Menkeu Ungkap Banyak Rumor ...
Megapolitan
Wali Kota Bogor Aktivasi Mu...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.