JEC Kembali Adakan Bakti Sosial Penanganan Mata Juling
📅 Senin, 16 Okt 2023, 20:15 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: istimewa
JAKARTA - Prevalensi mata juling (strabismus) secara global diperkirakan mencapai 1,93 persen, atau lebih dari 148 juta individu menurut laporan berjudul The impact of strabismus on psychosocial health and quality of life: a systematic review. Survey of Ophthalmology pada 2021. Selain memberi ketidaknyamanan secara psikologis kepada penyandangnya, strabismus juga bisa berpotensi memicu gangguan penglihatan lain, salah satunya, mata malas atau ambliopia.
Tidak hanya mempengaruhi produktivitas penderitanya, ambliopia bahkan dapat mengakibatkan gangguan fungsi penglihatan menurut laporan berjudul Risk factors for developing different subtypes of strabismus in a Saudi Population oleh Majidah Alshammari rekan-rekan (2017). Derajat keparahan dan tingkat risikodariambliopiabisa mencapai 50-73 persen.
Terdorong situasi tersebut serta mengantisipasi risiko lanjutan ambliopia, JEC Eye Hospitals and Clinics meneruskan kembali Bakti Sosial Operasi Mata Juling JEC. Layanan yang diberikan berupa edukasi serta tindakan operasi mata juling gratis.
Digagas perdana pada 2022, inisiatif ini menjadi aksi sosial pertama di Indonesia yang berfokus pada penanganan mata juling. Pada pelaksanaan tahun ini, Bakti Sosial Operasi Mata Juling JEC dipusatkan di RS Mata JEC @ Menteng, sekaligus untuk memperingati World Sight Day 2023, yang jatuh setiap 12 Oktober.
Dokter Subspesialis Konsultan Strabismus JEC Eye Hospitals & Clinics, sekaligus Ketua Servis Pediatric Ophthalmology and Strabismus JEC Eye Hospitals & Clinics, Dr. Gusti G. Suardana, SpM(K), mengungkapkan, masyarakat masih melihat penyandang mata juling sebagai kelompok yang 'berbeda.' Prasangka, kesalahpahaman, dan perlakuan negatif akibat stigma yang keliru turut meningkatkan tekanan psikologis yang mau tak mau sering penyandang strabismus hadapi.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Bukan itu saja, gangguan penglihatan lanjutan, seperti ambliopia, juga bisa mengancam. Sekitar 90 persen penderita ambliopia disebabkan oleh mata juling. Kurangnya pemahaman tentang ambliopia menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kondisi ini tidak tepat tertangani. Ini berisiko gangguan fungsi penglihatan dengan berbagai derajat keparahan," papar dia di Jakarta Sabtu (14/10).
Berdasarkan studi Kyle Blair; Gerhard Cibis; dan Arun C. Gulani berujudul Amblyopia (2023), prevalensi ambliopia global dilaporkan sekitar 1,75 persen. Ambliopia atau mata malas merupakan kondisi penurunan penglihatan pada salah satu mata akibat gangguan perkembangan fungsi penglihatan pada masa pertumbuhan.
Ambliopia yang dipicu oleh strabismus menyebabkan ketidakmampuan mata untuk bekerja sama secara sejajar. Kondisi ini mengarah pada perbedaan dalam penglihatan mata kiri dan kanan. Dampaknya, ambliopia yang dipicu oleh strabismus dapat mempengaruhi produktivitas penderitanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kami bertekad melanjutkan Bakti Sosial Operasi Mata Juling JEC guna mengukuhkan kepedulian JEC dalam membantu masyarakat penyandang strabismus terutama dari kalangan membutuhkan, agar bisa mendapatkan kembali kualitas hidup mereka," ujar Direktur Utama RS Mata JEC @ Menteng. Dr. Referano Agustiawan, SpM(K).
Ia menambahkan, sejalan dengan tema global peringatan WSD tahun ini, Love Your Eyes at Work, pemberian tindakan operasi mata juling gratis dari JEC ini diharapkan mampu mendukung pasien strabismus. Mereka diharapkan dapat mencapai produktivitas yang optimal dalam bekerja dan beraktivitas harian, serta menjauhkan mereka dari potensi ambliopia yang berisiko mengganggu fungsi penglihatan.
Inisiatif Bakti Sosial Operasi Mata Juling JEC mendapatkan dukungan penuh dari jajaran komisaris, direksi dan karyawan JEC Eye Hospitals & Clinics. Salah satunya dari Dr. Darwan M. Purba, SpM(K) selaku Co-Founder PT NSD/JEC Eye Hospitals and Clinics yang tahun lalu mendonasikan 150 juta rupiah untuk kebutuhan tahap pemeriksaan, tindakan operasi hingga pemulihan. Beberapa pihak di luar internal JEC Eye Hospitals and Clinics juta turut memberi respon positif.
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) DKI Jakarta Raya Dr. Julie Dewi Barliana, SpM(K), M. Biomed, menuturkan, ia mengapresiasi langkah bersejarah JEC yang telah mempelopori Bakti Sosial Operasi Mata Juling JEC. Inisiatif seperti ini tidak hanya menunjukkan kepedulian terhadap pasien strabismus, tetapi juga membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan mata.
"Strabismus bukan hanya soal estetika, tetapi juga kualitas hidup dan produktivitas seseorang. Kami berharap semakin banyak dokter mata, rumah sakit atau faskes mata yang menjalankan aksi sosial untuk mengatasi gangguan fungsi penglihatan. Tidak menyasar penderita katarak saja, tetapi juga diperluas untuk masalah mata lainnya, termasuk penanganan strabismus, yang tentunya akan membawa manfaat besar bagi masyarakat," paparnya.
Ketua Indonesian Pediatric Ophthalmology and Strabismus Society (Inaposs), DR. dr. Feti Karfiati Memed, SpM(K), MKes menyampaikan, bakti Sosial Operasi Mata Juling JEC mencerminkan tanggung jawab nyata JEC terhadap masyarakat, khususnya anak-anak penyandang mata juling. Di Inaposs, memahami betul dampak gangguan tersebut bagi perkembangan anak, baik dalam aspek fisik maupun psikologis.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!