Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Penerima ADEM Repatriasi Dapat Pendidikan Lebih Baik

📅 Minggu, 15 Okt 2023, 20:04 WIB | Oleh:
Penerima ADEM Repatriasi Dapat Pendidikan Lebih Baik Doc: Muhamad Ma'rup
Ket. (Kedua kanan) Penerima ADEM Repatriasi di SMKS Kodeco Simpang Empat Batulicin, Kalimantan Selatan, Felin Paulus, (kanan) Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMK Negeri 1 Banjarbaru, Hafilludin dan perwakilan penerima ADEM Repatriasi di Kalimantan Utara dan Sulawesi Selatan, di sela kegiatan Pendidikan Kebangsaan Bagi Penerima ADEM Repatriasi 2023, di Banjarbaru, Sabtu (14/10).

BANJARBARU - Pemerintah terus berupaya memberikan pendidikan lebih baik untuk semua, termasuk bagi anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri yang sulit mendapatkan akses pendidikan karena masalah administrasi penduduk. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudrsitek) memiliki program beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) Repatriasi para anak PMI yang kesulitan bisa mendapat pendidikan layak di Indonesia.

Penerima ADEM Repatriasi di SMKS Kodeco Simpang Empat Batulicin, Felin Paulus, mengisahkan pengalaman belajarnya di Malaysia serba terbatas. Sebelumnya, dia bersekolah di Community Learning Centre (CLC) Prolific Sabah, Malaysia.

"Bukannya pendidikan di malaysia tidak layak, tapi serba tidak lengkap dan layaknya 50 persen," ujar Felin kepada Koran Jakarta, di sela kegiatan Pendidikan Kebangsaan Bagi Penerima ADEM Repatriasi 2023, di Banjarbaru, Sabtu (14/10).

Siswi kelas X Jurusan Tata Busana ini menyebut, keterbatasan tidak hanya dari kurangnya sarana dan prasarana, tapi juga kegiatan penunjang pembelajaran seperti ekstrakurikuler pun tidak ada. Hal berbeda ditemuinya ketika bersekolah di SMKS Kodeco Simpang Empat Batulicin di mana fasilitasnya lengkap dan didukung dengan kegiatan ekstrakurikuler yang beragam.

Felin menambahkan, jam dan hari belajar di Malaysia lebih sedikit daripada di Indonesia. Tak jarang guru yang harus mengajar pun tidak masuk sehingga terjadi kekosongan jam pelajaran.

"Di Malaysia pembelajarannya kadang guru masuk mengajar kadang enggak. Bisa seharian itu jamkos (jam kosong) satu jam pelajaran pun tidak masuk. Nanti pas mau kenaikan semester, pembelajaran yang seharusnya di semester satu itu tidak habis," katanya.

Felin mengungkapkan keinginannya berkuliah di bidang serupa agar bisa hidup lebih baik dan membantu kedua orang tuanya yang masih bekerja sebagai mekanik salah satu perusahaan di Malaysia. Dia mengajak anak-anak yang bernasib sama dengannya untuk belajar dengan giat agar suatu saat bisa mengikuti program ADEM Repatriasi.

"Pesan saya untuk adik-adik kelas saya yang ada di Malaysia belajar baik-baik. Kejar dan raih cita-citamu. Jangan sampai putus sampai jenjang SMP karena tidak cukup untuk jadi bekal. Semoga tahun depan lebih ramai lagi yang mengikuti ADEM," tandasnya.

Sementara itu, Siswi kelas XII Akuntansi SMK Negeri 1 Martapura, Serin Andarias, mengaku tidak percaya bahwa dia bisa sekolah di Indonesia dengan beasiswa ADEM Repatriasi. Dia merasakan perubahan terbesar dalam dirinya setelah sekolah di Indonesia adalah menjadi mandiri dan lebih bertanggung jawab.

"Saya jadi berpikir, saya harus sukses dan bisa bawa orang tua saya kembali ke Indonesia. Bagaimanapun, hidup di Indonesia lebih baik dan lebih nyaman," ujar siswa yang lahir di Keningau, Malaysia.

Beri Dukungan

Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMK Negeri 1 Banjarbaru, Hafilludin, mengatakan, pihaknya berkomitmen memberi dukungan bagi para penerima beasiswa ADEM Repatriasi agar tidak hanya belajar, tapi juga bisa berprestasi. Sampai tahun 2023, SMKN 1 Banjarbaru sudah menerima 12 siswa ADEM Repatriasi dan enam di antaranya sudah lulus. Mereka yang lulus sebagian melanjutkan berkuliah dan sebagian lagi bekerja.

Guru jurusan Perhotelan itu menceritakan, mereka sedikit kesulitan di awal masa pembelajaran karena kendala bahasa dan budaya yang berbeda. Menurutnya, seiring berjalannya waktu para siswa akhirnya terbiasa. Para siswa juga diwajibkan ikut ekstrakulikuler agar percaya diri mereka bisa meningkat.

"Pembelajaran mereka bertahap dan bisa diikuti dengan baik. Materi belajarnya langsung sama dengan yang lain. Mereka juga mengikuti lomba dan tak jarang jadi juara. Hasil belajarnya juga kadang lebih bagus daripada anak asli sini," ucapnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Menkeu Purbaya Pastikan Tak Naikkan Tarif Pajak

40 menit yang lalu | Lili Lestari

Ekonomi
Menkeu Purbaya Pastikan Tak...
Indonesia Bisa Lolos Middle Income Trap, Berikut Kuncinya dari Pakar UI

Indonesia Bisa Lolos Middle Income Trap, Berikut Kuncinya dari Pakar UI

14 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.