Biaya Hidup Masyarakat Semakin Berat
📅 Selasa, 03 Okt 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Sumber: BPS - KORAN JAKARTA/ONES
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan beras dan bensin menjadi komoditas penyumbang inflasi terbesar secara bulanan (month-to-month/mtm) pada September 2023 yang mencapai 0,19 persen dibanding bulan sebelumnya.
Pelaksana Tugas Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam keterangan perkembangan Indeks Harga Konsumen edisi Oktober 2023 di Jakarta, Senin (2/10), mengatakan beras memberikan andil inflasi sebesar 0,18 persen, kemudian bensin dengan andil inflasi sebesar 0,6 persen sejalan dengan adanya penyesuaian harga BBM nonsubsidi.
BPS melaporkan perekonomian Indonesia mengalami inflasi 0,19 persen pada September 2023 jika dibanding dengan IHK bulan sebelumnya (month-to-month/mtm).
Selain kedua komoditas itu, penyumbang inflasi terbesar berikutnya adalah tarif pulsa ponsel, biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi, rokok kretek filter, dan daging sapi yang berkontribusi sebesar 0,01 persen terhadap inflasi September.
Sementara secara kelompok, makanan, minuman, dan tembakau mencatatkan inflasi sebesar 0,35 persen dan berkontribusi 0,09 persen terhadap inflasi September.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski sejumlah komoditas pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau berkontribusi terhadap inflasi, namun BPS juga mencatat terdapat sejumlah komoditas yang memberikan andil deflasi, di antaranya adalah telur ayam ras, bawang merah, cabai rawit, bawang putih, dan cabai merah.
Pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, mengatakan pemerintah perlu berupaya lebih keras untuk menjaga agar kenaikan harga beras bisa dikendalikan karena beras masih menjadi penyumbang inflasi terbesar.
"Kenaikan harga beras tersebut tidak lepas dari kemarau yang berkepanjangan akibat El Nino. Artinya, perlu antisipasi yang lebih baik atas dampak negatif dari perubahan iklim yang dari waktu ke waktu memang makin besar pengaruhnya," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Jauh-jauh hari sebetulnya telah banyak peringatan bahwa fenomena seperti El Nino akan membawa risiko bagi food security secara global.
Sementara itu, pengamat ekonomi yang merupakan Direktur Eksekutif Information Communication Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi, mengatakan dari laporan BPS itu menunjukkan bahwa komoditas seperti beras maupun BBM belum menjadi perhatian. Apalagi harga BBM kemudian dinaikkan tentunya ini mengerek inflasi lagi.
"Bagi pemerintah tentunya mengikuti angka internasional, tetapi apakah dalam hal BBM ini mengikuti harga internasional. Kalau kita lihat lihat angka-angkanya juga cukup tinggi sementara dampak konflik Russia-Ukraina mencair," kata Heru.
Seharusnya, menurut Heru, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk menaikkan harga BBM, dan berapa pun juga harga BBM ini harus disampaikan terlebih dahulu ke masyarakat.
Pengamat ekonomi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, mengatakan BBM dan beras, termasuk kelompok barang administered goods, artinya perubahan sedikit harga saja pada barang itu akan berpotensi mendorong inflasi.
Hal yang harus dibenahi terkait inflasi karena BBM adalah, perbaiki fasilitas angkutan publik yang nyaman, aman, dan murah sehingga masyarakat lebih senang naik angkutan publik daripada kendaraan pribadi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!