Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Menghidupkan Kembali Tradisi Panen Garam Kuno di Spanyol

📅 Sabtu, 30 Sep 2023, 02:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Menghidupkan Kembali Tradisi Panen Garam Kuno di Spanyol Doc: AFP/CRISTINA QUICLER
Ket. Panen Garam I Juan Carlos Sanchez de Lamadrid (kanan) berpose bersama istrinya, Macu Gomez, saat mereka memanen garam dari ladang garam mereka di Kota El Puerto de Santa Maria, Cadiz, Spanyol, pada pertengah September lalu. De Lamadrid adalah bagian dari sekelompok kecil warga Spanyol yang ingin melestarikan tradisi pemanenan garam laut tetap hidup.

Di ladang garam Cadiz di barat daya Spanyol, Juan Carlos Sanchez de Lamadrid sedang mengamati kolam berisi genangan air laut berwarna putih susu berbentuk persegi panjang yang merupakan bagian dari tradisi kuno untuk memanen garam dari laut.

Pada zaman dulu peradaban kuno bangsa Fenisia yang menguasai Mediterania sekitar tahun 1.200 SM, telah memanfaatkan angin kencang dan konstan yang bertiup dari Afrika utara untuk memfasilitasi penguapan air laut bagi menghasilkan garam di wilayah tersebut.

"Ini adalah tempat sempurna untuk ladang garam. Berangin, banyak sinar matahari... . Anda memiliki semua yang Anda butuhkan," kata De Lamadrid yang mengenakan topi jerami untuk melindungi dirinya dari terik matahari.

Pria berusia 56 tahun yang berasal dari Seville ini adalah bagian dari kelompok kecil namun dinamis petani yang berusaha melestarikan tradisi pemanenan garam laut tetap hidup.

Sektor ini berkembang pesat di wilayah yang cerah ini selama berabad-abad, dengan garam dari Cadiz diekspor ke Amerika, hingga penemuan alat pendingin secara drastis mengurangi kebutuhan garam untuk mengawetkan makanan.

Dari 160 produsen garam laut yang ada pada awal abad ke-20, hanya empat yang masih beroperasi.

Setelah lama berkarier sebagai fotografer dan tertarik dengan keindahan lanskap ladang garam, De Lamadrid mendirikan toko di wilayah tersebut pada tahun 2020 dan menjadi pemanen garam laut bersama istri dan dua karyawannya.

"Kami harus mempelajari segalanya, kami memulai dari nol," tutur dia sambil menerangkan bahwa ia mempelajari teknik membuat garam tersebut dari salah satu dari sedikit pemanen veteran yang masih aktif dan juga menghabiskan waktu di Portugal dan Prancis untuk menemukan teknik lain.

Tahun lalu, mereka memproduksi 30 ton garam laut murni dan tiga ton fleur de sel atau "bunga garam", sejenis kristal garam besar yang digunakan untuk hiasan dan membumbui segala sesuatu mulai dari ikan, daging dan sayuran hingga makanan penutup dan makanan panggang.

Untuk memanen garam, air laut dari Atlantik dialirkan ke jaringan tanggul yang dibangun di ladang garam, kemudian dibiarkan menguap. Ketika garam di dalam air mencapai konsentrasi yang tepat, air laut itu akan membentuk kristal putih yang kemudian dikumpulkan oleh para pekerja menjadi tumpukan putih kecil.

"Kami memanen semuanya dengan tangan dengan cara tradisional," kata De Lamadrid.

Kurang Dihargai

Ketika permintaan garam turun seiring dengan munculnya sistem pendingin, Cadiz tidak tahu bagaimana harus beradaptasi, tidak seperti tempat-tempat seperti Guerande di barat laut Prancis yang mulai menjual fleur de sal dan produk lainnya, kata Juan Martin, kepala perusahaan Salarte yang menjalankan usaha untuk menghidupkan kembali industri garam laut.

Sejak didirikan pada tahun 2012, Salarte telah merenovasi 250 hektare lahan garam dengan menggunakan pembiayaan swasta.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Jepang akan Menaikan Biaya Visa Lima Kali Lipat Mulai 1 Juli

29 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Jepang akan Menaikan Biaya ...
Rona
Batasan Mengonsumsi Kafein ...
Waspada! Prakiraan Cuaca BMKG Ada Potensi Hujan Pemicu Banjir dan Longsor di Sumut Rabu Besok

Waspada! Prakiraan Cuaca BMKG Ada Potensi Hujan Pemicu Banjir dan Longsor di Sumut Rabu Besok

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.