Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Karavan Unta Jadi Tulang Punggung Transportasi

📅 Rabu, 20 Sep 2023, 06:25 WIB | Oleh:
Karavan Unta Jadi Tulang Punggung Transportasi Doc: AFP/ Souleymane AG ANARA

Di kawasan Afrika Barat pada masa lampau masyarakat mengkonsumsi garam yang didapat dari pertambangan di kawasan gurun Sahara. Garam dari kawasan tersebut diangkut melalui karavan unta dan perahu di sepanjang sungai seperti Niger dan Senegal, garam sampai ke sejumlah pusat perdagangan. Dari sini kemudian diangkut jauh ke selatan atau ditukar dengan barang lain.

Lempengan garam yang relatif tahan lama namun berat dimuat ke atas punggung unta. Masing-masing hewan membawa dua balok yang beratnya masing-masing mencapai 90 kilogram. Pada masa kejayaannya, jumlah karavan unta bisa mencapai 500 hingga beberapa ribu ekor.

Karavan unta pertama kemungkinan besar melintasi Sahara barat pada abad ke-3 M atau lebih awal lagi, namun praktik ini benar-benar berkembang pesat pada abad ke-9 hingga ke-12 M. Ketika tiba di pusat perdagangan atau pemukiman besar di wilayah Sudan, garam tersebut ditukar dengan barang untuk dibawa melintasi gurun dalam perjalanan pulang.

Garam merupakan komoditas bernilai tinggi bukan hanya karena garam tidak dapat diperoleh di wilayah sub-Sahara namun juga karena garam terus-menerus dikonsumsi sementara pasokannya tidak pernah dapat memenuhi total permintaan. Garam yang berat dan berukuran besar berukuran besar memerlukan biaya yang lebih besar untuk diangkut dalam jumlah besar, yang hanya menambah tingginya harga barang tersebut.

Akibatnya, garam sering kali ditukar dengan debu emas, bahkan di beberapa daerah pedesaan garam kecil digunakan sebagai mata uang dalam transaksi perdagangan.

Raja-raja Ghana menyimpan timbunan garam di samping bongkahan emas yang memenuhi perbendaharaan kerajaan mereka. Perpindahan barang berharga tersebut dari satu pedagang ke pedagang lainnya memberikan banyak peluang untuk meningkatkan nilainya semakin jauh barang tersebut berpindah dari sumbernya di Sahara.

Seorang penjelajah Arab yang tidak disebutkan namanya pada abad ke-10 M mencatat operasi rumit perdagangan massal antara pedagang garam dan emas. Bahkan transaksi garam bisa menjadi sumber pendapatan yang menggiurkan bagi para penguasa. Misalnya, penjelajah Arab Al-Bakri, yang mengunjungi wilayah Sudan pada tahun 1076 M, menjelaskan bea masuk garam di Kekaisaran Ghana dikenakan pajak dua kali.

"Untuk setiap keledai yang membawa garam, Raja Ghana memungut satu dinar emas ketika dibawa ke negaranya dan dua dinar ketika dikirim keluar," dikutip dari The Cambridge History of Africa, Vol. 2 (2001).

Contoh lain, Timbuktu bertindak sebagai pedagang perantara dalam pertukaran sumber daya Afrika utara dan Barat. Sebongkah garam seberat 90 kilogram, yang diangkut melalui sungai dari Timbuktu ke Djenne di selatan bisa melipatgandakan nilainya dan bernilai sekitar 450 gram emas. hay/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Qatar Dorong Negara Teluk H...
Pemkot Bandung Tertibkan 63 Bangunan Liar di Kawasan Dipati Ukur

Pemkot Bandung Tertibkan 63 Bangunan Liar di Kawasan Dipati Ukur

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
Crysencio Summerville
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.