Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Malta, Kepulauan Strategis yang Jadi Rebutan Banyak Bangsa

📅 Kamis, 14 Sep 2023, 06:10 WIB | Oleh:
Malta, Kepulauan Strategis yang Jadi Rebutan Banyak Bangsa Doc: AFP/ Daniel SLIM

Berada di tengah-tengah laut Mediterania, posisi Malta sangatlah strategis. Peradabannya dimulai dari 5.900 SM, namun budayanya terus berganti seiring dengan hadirnya penguasa baru yang datang silih berganti.

Terletak di jantung Mediterania sekitar 58 mil selatan Sisilia, Kepulauan Malta merupakan negara kecil, bahkan merupakan negara terkecil ke-10 di dunia berdasarkan luas wilayah. Namun dalam sejarahnya memainkan peran yang sangat besar.

Negara kepulauan ini memiliki tiga pulau besar yang berpenghuni yaitu Malta (Malta), Gozo (Ghawdex), dan Comino (Kemmuna). Total luas daratannya mencapai 316 kilometer dengan jumlah penduduk mencapai 516.100 menurut sensus 2021.

Ketika negara-negara Eropa berpindah ke lajur kanan dengan kemudi mobil kiri, negara pulau ini menggunakan lajur kiri dengan setir di kanan. Salah satu alasanya negara ini pernah dijajah oleh Inggris dalam waktu lama.

Secara geografis Malta memiliki pelabuhan alami yang ramah untuk bersandar kapal-kapal dagang. Siapapun yang menguasai Malta, memiliki akses mudah ke Eropa, Afrika utara, dan Timur Tengah.

Sejak penduduk pertama di kepulauan tersebut tiba sekitar tahun 5.900 sebelum masehi (SM), Malta telah jatuh di bawah kendali bangsa Fenisia, Kartago, Romawi, Arab, Normandia, Aragon, Prancis, Inggris dan lain-lain. Sejak 1964, negeri pulau ini berakhir menjadi negara merdeka.

Negara ini telah menyaksikan peperangan dan pertikaian, serta hilangnya budaya. Kota ini bahkan menjadi saksi terciptanya salah satu kota terencana pertama di Eropa. Tempat ini berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi Mehmed VI yang diasingkan setelah pembubaran Kekaisaran Ottoman dan dipuji sebagai "Perawat Mediterania" karena perannya dalam merawat tentara yang terluka di Gallipoli selama Perang Dunia Pertama.

Malta di masa lalu dipenuhi dengan kuil. Pembangunan kuil berkembang sekitar 3600 SM. Artinya lebih dari satu milenium sebelum pembangunan piramida besar Giza atau pembangunan Stonehenge di Dataran Salisbury, Inggris Raya.

Saat ini, ada enam kompleks kuli yang tersebar di Malta dan Gozo yaitu Ggantija,Hagar Qim, Mnajdra, Ta' Hagrat, Skorba dan Tarxien. Kuil-kuil ini termasuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO yang dilindungi keberadaannya.

Di dalam kuil terdapat patung-patung. Namun tujuan patung-patung tersebut masih belum jelas, meskipun secara kolektif patung-patung tersebut merujuk pada masyarakat pada masa itu yang memiliki budaya ritual.

Yang unik beberapa patung menggambarkan perempuan gemuk. Para ahli menduga patung ini merupakan simbol dewi kesuburan. Selain patung, kuil-kuil itu dibangun sebagai makam seperti yang bisa ditemui di kuil ?al Saflieni Hypogeum. Makam ini berupa batu kapur lunak yang dipahat. Kuburan bawah tanah ini menyimpan jasad-jasad sekitar 7.000 orang ketika digali pada abad ke-20.

Namun pada 2500 SM, para pembangun kuil lalu menghilang, meninggalkan bangunan megah tersebut sebagai wasiat mereka. Para sejarawan telah berjuang untuk menentukan mengapa orang-orang ini tiba-tiba menghilang dari Malta.

Kemungkinan faktor kekeringan, kelaparan, epidemi, dan agresi dari luar membuat mereka meninggalkan Malta. Ini menjadi alasan terjadinya kepunahan secara tiba-tiba, tanpa ada bukti konklusif yang menunjukkan hal tersebut.

Era Kemakmuran Baru

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Daerah
Intervensi Terpadu untuk Me...
Megapolitan
Tim Catur DKI Jakarta Gelar...
Nasional
Mau Suvenir dari Istana? In...
Update Klasemen Sementara Piala Dunia 2026: Kolombia dan Inggris Memimpin di Grup K dan L

Update Klasemen Sementara Piala Dunia 2026: Kolombia dan Inggris Memimpin di Grup K dan L

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.