Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Penuhi Hak Belajar Menyenangkan, Gerakan Transisi PAUD ke SD Jadi Jawaban

📅 Sabtu, 26 Agu 2023, 11:29 WIB | Oleh: Tim Penulis
Penuhi Hak Belajar Menyenangkan, Gerakan Transisi PAUD ke SD Jadi Jawaban Doc: Istimewa
Ket. Anak-anak belajar sambil bermain.

JAKARTA - Tes baca, tulis, dan hitung (calistung) menjadi momok bagi orangtua ketika anak memasuki jenjang sekolah dasar (SD). Calistung menjadi salah satu penentu dalam proses penerimaan murid baru membuat orangtua mengupayakan segala cara agar anak mereka bisa lolos.

Akibatnya, beragam miskonsepsi terkait calistung terjadi di tengah masyarakat, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang mengupayakan agar anak menguasai calistung dengan cepat, hingga orangtua memaksa anak mengikuti berbagai kursus.

Padahal bagi anak, bermain adalah belajar. Tak banyak orangtua mengetahui calistung bukan satu-satunya kemampuan dasar yang harus dikuasai seorang anak untuk membantu tumbuh-kembangnya. Pemerintah melalui gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan sudah melarang menjadikan tes calistung sebagai syarat utama seorang anak dapat diterima di SD/MI.

Salah satu orangtua murid, Dyah Resti Kurniasari, baru mengetahui bahwa tes calistung tidak wajib diadakan sekolah dalam PPDB saat peluncuran Merdeka Belajar Episode ke-24 bertajuk "Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan". Informasi yang didapat melalui agenda tersebut membuatnya lega anaknya akan diterima apa adanya. Karena, selain tidak ada persyaratan calistung, materi pembelajaran tersebut akan perlahan diajarkan saat anaknya masuk SD.

Awalnya, Dyah yang merupakan orangtua murid Kelas 1 SD Negeri Kenari, Jakarta Pusat, sempat ragu saat mendaftarkan anaknya ke sekolah. Ia takut anaknya tidak diterima, karena latar belakang anaknya yang hanya mengikuti TK secara daring.

"Anak saya latar belakangnya tidak TK offline (full online), hanya bertemu guru seminggu dua kali lewat zoom. Sebetulnya agak khawatir (saat PPDB) karena tidak pernah melalui kelas rutin bertemu dengan banyak orang," kata Dyah.

Namun kecemasan Dyah berubah menjadi kebahagiaan saat anaknya lulus PPDB di sekolah yang dituju. Tidak ada tes calistung saat penerimaan. Selama dua minggu pertama masuk sekolah, terdapat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang membuat anak mengenal sekolahnya dan sekolahnya lebih mengenal peserta didik baru, sebagaimana diimbau pemerintah melalui gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan.

"Anak saya bercerita bahwa SD sama menyenangkan seperti di TK. Saat MPLS guru juga menerapkan hal seperti itu. Di dua minggu pertama itu anak saya benar-benar senang dan merasa nyaman berada di SD," terang Dyah.

Kebahagiaan Dyah bertambah ketika SD tempat anaknya bersekolah turut memperhatikan masalah kematangan emosional anak, sebagaimana menjadi bagian dari kemampuan fondasi yang harus diberikan pada anak pada masa transisi dari PAUD ke SD kelas awal.

Dyah bercerita, sekolah mengundang pendongeng dengan boneka yang bercerita mengenai kisah seorang ayah yang mencari nafkah untuk anak bisa sekolah. Menurutnya, tema dongeng tersebut diberikan agar anak berpikir sendiri bahwa orang tua bekerja keras untuk anak bisa sekolah.

"Itu sangat membekas sekali untuk anak saya. Ternyata anak SD sudah bisa memiliki kematangan emosional. MPLS itu yang menjadi gongnya sehingga anak saya menjadi senang," lanjut Dyah.

Dalam proses MPLS, Dyah juga merasakan sekolah berupaya membangun kolaborasi untuk bersama-sama menjadikan masa transisi sekolah menjadi mengasyikkan. Komunikasi mengenai perkembangan anak di sekolah terus diinformasikan oleh guru pada orang tua termasuk mengenai berbagai keperluan yang harus dilengkapi untuk proses belajar-mengajar di sekolah

"Kami punya grup WA tersendiri untuk komunikasi dengan guru. Selama MPLS, diinformasikan pakaian apa yang digunakan, karena tidak diwajibkan menggunakan pakaian seragam baru. Informasi mengenai anak yang tiba-tiba menangis juga dikabarkan. Ada keterikatan emosional antara guru dan orangtua," kata Dyah.

Sebagaimana masa MPLS diterapkan di SD tempat anak Dyah bersekolah, penerapan masa perkenalan bagi peserta didik baru selama dua minggu pertama turut menjadi perhatian SDN 2 Percontohan Blangkejeren, Gayo Lues, tempat Fitria Ratnawati mengajar. Fitria yang merupakan guru kelas 1 mengetahui bahwa MPLS ini penting, dengan harapan satuan sekolah dapat memfasilitasi anak serta orangtua untuk berkenalan dengan lingkungan belajarnya sehingga peserta didik baru dapat merasa nyaman dalam kegiatan belajar, sebagaimana target dari gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Olahraga
Iran Membidik Langkah Berse...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.