Jangan Terlena, Tantangan ke Depan Jauh Lebih Berat
📅 Selasa, 08 Agu 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
» Indonesia berhadapan dengan El Nino yang bisa membuat inflasi pangan naik dan pendapatan sektor pertanian menurun.
» Indonesia harus beralih dari negara yang consumption driven ke negara yang pertumbuhannya ditopang export net.
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2023 tumbuh 5,17 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya atau year on year (yoy). Sedangkan secara kuartal ke kuartal (qtq) tumbuh 3,86 persen dibanding kuartal I-2023.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi pendorong utama dengan kontribusi 2,77 persen dari 5,17 persen, disusul Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi 1,39 persen dan konsumsi pemerintah 0,73 persen.
Direktur Celios, Bhima Yudisthira, yang diminta tanggapannya mengatakan jangan terlena dengan pencapaian di kuartal II-2023, sebab tantangan ke depan jauh lebih berat.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kuartal kedua ada Lebaran, ada Tunjangan Hari Raya. Tetapi sekarang, Indonesia berhadapan dengan El Nino yang bisa membuat inflasi pangan naik, pendapatan sektor pertanian menurun. Sementara kinerja ekspor melemah dipengaruhi kondisi permintaan mitra dagang Indonesia khususnya Tiongkok, Eropa, dan Amerika Serikat (AS)," papar Bhima.
Menurut dia, ada swing pada harga komoditas yang harus dipersiapkan karena mempengaruhi pendapatan sektor pertambangan dan perkebunan. Kondisi industri manufaktur juga tumbuh di bawah pertumbuhan ekonomi hanya 4,88 persen dengan porsi 18,2 persen terhadap PDB. "Ada fenomena deindustrialisasi yang terus berlanjut dan mengancam lapangan kerja," tambah Bhima.
Ia mengatakan kuartal III dan IV pertumbuhan ekonomi diperkirakan pada kisaran 4,7-4,95 persen secara yoy, sehingga akhir tahun ekonomi akan tumbuh 5 persen atau di bawah target pemerintah 5,3 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ekonom Senior dan Associate Lembaga Pengembangan Perbankan (LPPI), Ryan Kiryanto, mengatakan pertumbuhan PDB tahunan sejak kuartal IV- 2021 hingga kuartal II-2023 secara rerata sedikit di atas 5 persen. "Ini menunjukkan kapasitas optimal pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar sedikit di atas 5 persen yoy," kata Ryan.
Khusus pada kuartal II-2023, PDB yang 5,17 persen, ditopang oleh pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 5,23 persen atau setara dengan 53,31 persen dari total PDB nasional. Dukungan pembentukan modal tetap bruto atau investasi juga tumbuh bagus 4,63 persen atau setara dengan 27,90 persen terhadap total PDB nasional.
Porsi PMTB, katanya, menggembirakan karena multiplier effects-nya yang luas dan besar bagi perekonomian nasional. Pengeluaran konsumsi pemerintah juga bagus, melejit sebesar 10,62 persen yang mengindikasikan serapan belanja yang membaik. Tak kalah pentingnya, pertumbuhan konsumsi LNPRT sebesar 8,62 persen seiring dengan makin maraknya kegiatan di berbagai ormas dan orpol serta sejenisnya.
"Semua pertumbuhan tersebut merupakan resultan dari game changer berupa dicabutnya kebijakan PPKM yang mendorong mobilitas orang, barang, dan jasa. Lonjakan konsumsi rumah tangga yang masif terjadi di April-Mei lalu seiring dengan perayaan hari keagamaan (Idul Fitri)," kata Ryan.
Nilai Tambah
Dihubungi terpisah, pengamat ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya), Wibisono Hardjopranoto, mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terjaga karena ditopang konsumsi rumah tangga.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!