Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

RI Tak Perlu Impor Pangan jika Bisa Atasi 'Food Loss'

📅 Rabu, 02 Agu 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
RI Tak Perlu Impor Pangan jika Bisa Atasi 'Food Loss' Doc: ANTARA/SYAIFUL ARIF
Ket. EMBUNG MULAI MENGERING I Seorang petani mengambil air untuk menyirami tanaman tembakau di embung Grojogan yang mulai mengering di Desa Pelabuhan, Jombang, Jawa Timur, Selasa (1/8). Embung tadah hujan tersebut mulai mengering sejak beberapa bulan lalu sehingga dimanfaatkan sebagian warga untuk menanam tembakau dan padi.

» Konsumsi pangan masyarakat secara perlahan harus dialihkan ke berbagai alternatif sumber pangan lokal.

» Pemerintah seharusnya tidak membuka lagi izin impor dan memberi kesempatan pangan lokal tumbuh dan berkembang.

JAKARTA - Indonesia harus bisa mengatasi food loss atau pemborosan bahan makanan sebagai salah satu syarat untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dwijono Hadi Darwanto, mengatakan jika Indonesia bisa mengatasi food loss di tingkat produsen maka tidak perlu lagi mengimpor pangan.

Hal itu mengacu pada data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan food loss di tingkat produsen atau petani padi mencapai sekitar 1,8 juta ton setiap tahun, sedangkan angka impor beras nasional setahun berkisar 1,5-2,5 juta ton.

"Kalaupun impor, kita hanya mengimpor untuk 'iron stock' atau cadangan bencana yang tidak terlalu besar," kata Dwijono saat dihubungi Koran Jakarta, Selasa (1/8).

Menurut Dwijono, untuk menyelesaikan masalah food loss di level produsen diperlukan pendekatan budaya dan teknologi yang disesuaikan dengan karakter petani nasional. Ada variebal penting yakni mesin perontok yang biasa dipakai petani hanya bisa merontokkan padi pada tingkat kekeringan yang mendekati 13 persen kadar air.

Jika perontokan pada kadar air yang lebih besar dari 13 persen tentu banyak butir padi yang hancur atau rusak saat perontokan.

"Kami di kampus pernah melakukan dengan memasang terpal saat perontokan padi agar tidak banyak yang tercecer atau kita menggunakan mesin perontok yang kita punya teknologinya. Tetapi, kan juga tergantung pada tingkat kekeringan padinya. Jadi perlu pendekatan budaya, dengan kebiasaan, tapi juga teknologi budi dayanya," papar Dwijono.

Sebaiknya Anda baca juga:

Sementara itu, food loss dan waste di level konsumen juga sangat tinggi. Masyarakat Indonesia terbiasa boros pangan sejak dini. Anak-anak sering dibiarkan tidak menghabiskan makannya.

Sebetulnya kebiasaan tidak boros pangan harus dimulai sejak dini atau tingkat anak-anak dengan membiasakan mereka mengonsumsi habis makanan.

Pangan Lokal

Sementara itu, peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa, penghematan konsumsi pangan bisa dilakukan secara bijak terutama dari kalangan masyarakat menengah atas.

Selain itu, dia juga mendorong agar konsumsi pangan masyarakat perlahan juga dialihkan ke berbagai alternatif sumber pangan lokal. "Pemerintah harus gencarkan sosialisasi, edukasi, dan regulasi penggunaan pangan lokal," tegasnya.

Gerakan konsumsi pangan lokal, katanya, harus dimulai dari pemerintah. "Pangan yang dikonsumsi selama kegiatan pemerintah harus pangan lokal," tandasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Berpotensi Melemah Lanjutan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.