Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Biaya Logistik di Indonesia Masih Tinggi

📅 Jumat, 21 Jul 2023, 08:21 WIB | Oleh: Tim Penulis
Biaya Logistik di Indonesia Masih Tinggi Doc: istimewa

JAKARTA - Bank Dunia menurunkan peringkat Logistics Performance Index (LPI) Indonesia menjadi 63 dari posisi 46 dengan skor menjadi 3,15. Indeks tersebut kalah jauh dengan Singapura yang berada di posisi pertama dengan skor 4,3 dan Jepang di peringkat 15 dengan skor 3,9.

Dalam laporan Bank Dunia, beberapa waktu lalu, skor LPI Indonesia pada tahun ini turun menjadi 3,15, kalah jauh dari Singapura yang ada di posisi pertama dengan skor 4,3 dan Jepang di peringkat ke-15 dengan skor 3,9. Enam indikator yang menjadi patokan Bank Dunia dalam memberikan skor LPI adalah kepabeanan, infrastruktur, pengiriman internasional, kompetensi dan kualitas logistik, timeliness, serta tracking dan tracing.

Dua indikator yakni kepabeanan naik dari 2,67 pada 2018 menjadi 2,8 di 2023 dan infrastruktur mendapat 2,9. Sedangkan empat indikator lainnya turun yakni pengiriman internasional melemah menjadi 3, kompetensi dan kualitas logistik 2,9, timeliness menjadi 3,3 dan tracking dan tracing mendapat 3.

Terkait hasil tersebut, Badan Logistik dan Rantai Pasok, Kadin Indonesia meminta sejumlah pihak termasuk pengamat tidak membandingkan kualitas logistik dengan Singapura sebagai akibat dari turunnya peringkat LPI Indonesia karena kondisi kedua negara tidak sebanding.

"Kita tidak bisa membandingkan shipping internasional Singapura dengan shipping internasional kita karena kita ini adalah final destination sedangkan di Singapura sebagai transhipment shipping. Dari situ saja kita lihat, seharusnya diukur dengan aspek negara kepulauannya," kata Ketua Badan Logistik dan Rantai Pasok Kadin Indonesia Akbar Djohan kepada media di Kantor Kadin, Jakarta, Kamis (20/7).

Akbar menyampaikan kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.50 lebih pulau merupakan berkah sekaligus tantangan yang sangat besar. Sehingga standar empat pilar LPI yang mencatatkan penurunan, dinilainya, harus diukur kembali agar hasilnya lebih konkrit.

Potensi Tumbuh

Lebih lanjut, dia menuturkan sektor logistik terus menunjukkan kinerja yang baik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor transportasi dan pergudangan tumbuh paling tinggi pada kuartal pertama 2023 dengan 15,93 persen (yoy).

Kadin Indonesia juga memproyeksikan industri logistik tahun ini berpotensi tetap tumbuh di atas 6 persen. Potensi tersebut ditunjang oleh pasar e-commerce yang masih bertumbuh sera mulai normalnya aktivitas masyarakat pasca pencabutan status pandemi Covid-19.

Kendati demikian, Akbar mengakui belum meratanya infrastruktur konektivitas yang menyebabkan biaya logistik menjadi tinggi masih menjadi salah satu tantangan besar di Indonesia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.