Mengenal ‘Global South’, Kubu Geopolitik yang Sedang Naik Daun
📅 Kamis, 20 Jul 2023, 13:37 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: antara
Jorge Heine, Boston University
Keenganan negara-negara besar di Afrika, Asia dan Amerika Latin untuk berpihak pada NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) atas perang di Ukraina telah mempopulerkan kembali istilah "Global South."
"Mengapa begitu banyak negara Global South yang mendukung Rusia?" demikian yang tertulis dalam judul salah satu berita; "Ukraina mendesak 'South Global' untuk ikut menantang Rusia," tulis berita lainnya.
Lalu apa yang dimaksud dengan Global South, dan mengapa istilah ini menjadi sorotan dalam beberapa tahun terakhir?
Global South mengacu pada negara-negara di seluruh dunia yang kerap dideskripsikan sebagai negara "berkembang", "kurang berkembang" atau "terbelakang." Kebanyakan dari negara-negara ini - meskipun tidak semua - berada di belahan Bumi bagian selatan, sebagian besar di Afrika, Asia dan Amerika Latin.
Sebaiknya Anda baca juga:
Secara umum, mereka cenderung lebih miskin, memiliki tingkat ketimpangan pendapatan yang lebih tinggi dan harapan hidup yang lebih rendah serta kondisi kehidupan yang lebih keras dibandingkan negara-negara di "Global North" - negara-negara maju yang sebagian besar terletak di wilayah Amerika Utara dan Eropa, beberapa di Oseania dan di belahan bumi lainnya.
Melampaui 'Dunia Ketiga'
Istilah Global South pertama kali digunakan pada tahun 1969 oleh aktivis politik Carl Oglesby. Oglesby berpendapat, seperti yang tertulis di majalah Katolik liberal "Commonweal", bahwa perang di Vietnam adalah puncak dari sejarah "dominasi utara atas global south."
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, istilah tersebut baru mendapatkan momentum setelah pecahnya Uni Soviet tahun 1991 - yang menandai akhir "Dunia Kedua".
Sebelumnya, istilah yang lebih umum digunakan untuk menyebut negara berkembang - atau negara yang belum sepenuhnya melakukan industrialisasi - adalah "Dunia Ketiga."
Istilah tersebut diciptakan oleh Alfred Sauvy pada tahun 1952, yang dianalogikan dengan tiga istilah Prancis: bangsawan, ulama dan borjuis. Istilah "Dunia Pertama" mengacu pada negara-negara kapitalis maju; "Dunia Kedua" adalah negara-negara sosialis yang dipimpin oleh Uni Soviet; dan "Dunia Ketiga" adalah negara-negara berkembang, yang pada saat itu banyak yang masih berada di bawah kekuasaan kolonial.
Buku yang ditulis oleh sosiolog Peter Worsley, terbit tahun tahun 1964, berjudul "The Third World: A Vital New Force in International Affairs," semakin mempopulerkan istilah tersebut. Buku itu juga mencatat bahwa "Dunia Ketiga" menjadi tulang punggung Gerakan Non-Blok, yang didirikan hanya tiga tahun sebelumnya sebagai kelompok yang tidak mau memihak pada dua kubu mana pun pada era Perang Dingin.
Meskipun pandangan Worsley tentang "Dunia Ketiga" ini cenderung positif, istilah ini tetap dikaitkan dengan negara-negara yang dilanda kemiskinan, kemelaratan, dan ketidakstabilan. "Dunia Ketiga" kemudian menjadi sinonim untuk banana republics (republik pisang: istilah untuk negara kecil yang miskin dan pemasukannya bergantung pada satu komoditas ekspor atau sumber daya yang terbatas) yang diperintah oleh diktator kaleng-kaleng - sebuah karikatur yang disebarkan oleh media-media Barat.
Jatuhnya Uni Soviet - dan berakhirnya Dunia Kedua - memberikan dalih yang tepat untuk menghilangkan istilah "Dunia Ketiga". Penggunaan istilah itu redup dengan cepat pada tahun 1990-an.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!