Milan Kundera, Karya-karyanya Mengeksplorasi Absurditas Menjadi Manusia
📅 Sabtu, 15 Jul 2023, 10:14 WIB | Oleh: Tim PenulisBerat dan ringan, tawa dan lupa, pengulangan dan perubahan, politik dan seks: empat novel pertamanya menggabungkan dualitas tersebut. Mungkin kemampuannya untuk memiliki pemikiran yang kontradiktif ini dapat dijelaskan dalam diskusinya dengan Philip Roth:
Totalitarianisme bukan hanya neraka, tapi juga impian surga - drama kuno tentang dunia di mana semua orang akan hidup dalam harmoni.
Penulis dalam pengasingan
Sebaiknya Anda baca juga:
Mimpinya tentang surga tidak terwujud, tentu saja. Pada tahun 1975, ia melarikan diri dari rumahnya ke pengasingan di Prancis, dan terus menulis karya fiksi yang sebagian besar mengikuti struktur khas yang pertama kali ia kembangkan dalam The Joke: novel multi-bagian, multi-suara, dengan narator yang menyelipkan kritik, komentar, dan pernyataan filosofis di dalam teks.
Hal ini menghasilkan sebuah cerita yang penuh kegelisahan, cerita yang berpindah-pindah lokasi, waktu dan konteks. Tokoh-tokohnya muncul lalu pergi terus menerus. Logika adanya bagian awal, tengah, dan akhir nyaris tidak dikenal. Dan isu-isu yang sering muncul dalam fiksi - pencarian jati diri, penceritaan sebuah kisah, pencapaian resolusi - dikesampingkan.
Fokus dari novel-novel Kundera adalah pergulatannya dengan pertanyaan-pertanyaan akan pengetahuan, kompleksitas keberadaan dan ketidakpastian yang konstan. Ini bisa menjadi gaya yang meresahkan: sebuah gangguan, bukannya kesenangan sederhana atau pengalaman estetis. Bagi wanita abad ke-21, nada dan gayanya dalam menulis adegan seks - dan representasi wanita secara umum - dapat terlihat sebagai maskulinitas yang ketinggalan zaman.
Sebaiknya Anda baca juga:
Saya terombang-ambing antara merasa tersinggung dengan apa yang terasa seperti misogini, dan membacanya sebagai kritik tajam terhadap misogini. Dan saya tidak sendirian dalam hal ini.
'Segala sesuatu tidak sesederhana yang dipikirkan'
Saya mengikuti jejak Kundera dengan mudah bukan pada novel-novelnya, tapi pada esai-esainya. Di sini, pemahamannya yang mendalam tentang latar belakang dari yang sekarang kita kenal sebagai novel, atau tradisi panjang dan perubahan yang menjadi ciri praktik artistik, benar-benar menerangi bidang ini.
Dalam The Art of the Novel (1986), ia menguraikan sejarah bagaimana para novelis membongkar berbagai dimensi eksistensi. Ia memulai dengan Miguel de Cervantes dan bergerak melalui daftar penulis fiksi generatif hingga ke sesama penulis Ceko, Franz Kafka dan Jaroslav Hasek - yang menurutnya, menunjukkan bahwa kekuatan fiksi adalah kemampuannya untuk menoleransi ketidakpastian, yang tidak dapat dilakukan oleh politik dan agama. Bagi Kundera, yang dilakukan fiksi dengan sangat baik adalah mengatakan kepada pembaca: "Segala sesuatu tidak sesederhana yang dipikirkan."
Bagi Kundera, novel adalah sebuah objek teknologi yang memungkinkan cara-cara baru untuk melihat dan memaknai. Cara pandang dan pemaknaan ini tertanam dalam konteksnya. Sebagai contoh, dalam The Curtain: An Essay in Seven Parts (2006), ia menunjukkan hal yang dapat dilakukan oleh fiksi yang tidak dapat dilakukan oleh bentuk-bentuk lain.
Homer tidak pernah bertanya-tanya apakah, setelah semua pertempuran tangan kosong mereka, Achilles atau Ajax masih memiliki semua giginya. Namun bagi Don Quixote dan Sancho, gigi adalah masalah yang selalu ada - gigi yang sakit, gigi yang tanggal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!