Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

“Gusmiati Suid: Arsip & Refleksi' Buku Dokumentasi Sang Maestro

📅 Minggu, 25 Jun 2023, 18:25 WIB | Oleh: Tim Penulis
“Gusmiati Suid: Arsip & Refleksi' Buku Dokumentasi Sang Maestro Doc: ANTARA/Pamela Sakina

Gusmiati Suid: Arsip & Refleksi, buku yang mendokumentasikan perjuangan dan perjalanan karya maestro Gusmiati Suid resmi diluncurkan, Sabtu (24/6).

Ditulis oleh orang-orang terdekat sang mendiang maestro, buku ini memuat arsip media massa tentang pementasan dan proses penciptaan karya seniman Gusmiati Suid.

"Secara fokus memang ini arsip kumpulan kliping, tidak hanya sekedar arsip tapi ada refleksi yang bisa menjelaskan lebih dalam kekaryaan ibu (Gusmiati Suid), kemudian juga perjuangan kebudayaannya," kata Penanggung Jawab Arsip & Kelola Buku, Diana Trisnawati, pada peluncuran Gusmiati Suid: Arsip & Refleksi di Jakarta, Sabtu.

Lahir pada masa pendudukan Jepang (16 Agustus 1942 - 28 September 2001) di Dusun Parak Jua Batu Sangkar, Sumatera Barat, Bu Yet, sapaan akrab Gusmiati Suid, merupakan seorang penata tari (koreografer). Pencipta Tari Rantak, Kabar Burung, dan Api Dalam Sekam ini dipandang sebagai seorang maestro di dunia seni tari kontemporer Indonesia.

Sebelumnya ia merupakan pengajar pegawai negeri sipil (PNS) yang memutuskan untuk keluar dan akhirnya mendobrak sejarah seni tari Tanah Air.

Diterbitkan Borobudur Writers and Cultural Society (BWCF), orang-orang terdekat Bu Yet lah yang merupakan penulis buku ini, mereka di antaranya Helly Minarti, Nirwan Dewanto, Sal Murgiyanto, Efix Mulyadi, Afrizal Malna, dan Yerry Wirawan.

Helly merupakan akademisi dan doktor bidang koreografi yang cukup dekat dengan Bu Yet, sedangkan Efix merupakan seorang jurnalis pada jamannya yang mengikuti rekam jejak perjalanan karya sang maestro.

Sementara Nirwan dan Afrizal merupakan kerabat dekat, yang juga berasal dari Suku Minang, Yerry mahir dalam sejarah, serta Sal yang sebelumnya merupakan penasihat yang selalu berdiskusi dengan Gusmiati Suid.

"Ibu (Gusmiati Suid) hanya ingin menyampaikan bahwa sebuah karya tidak boleh terkekang oleh tradisi dan gender, namun si pelaku sendiri juga tidak boleh lepas dari tradisi dan aturan-aturannya," jelas Diana.

Perlu waktu berbulan-bulan bagi Diana dan tim untuk mengumpulkan arsip sang maestro yang kebanyakan masih diterbitkan dalam media cetak, baik dalam dan luar negeri. Tidak sedikit pula karya dan perjalanan Bu Yet yang tidak sempat didokumentasikan.

Namun kumpulan arsip yang ditampilkan dalam buku merupakan yang terbaik dan menggambarkan perjuangan Gusmiati Suid secara jelas dan mendalam.

"Bisa dikatakan ini sebagai buku pertama yang mendokumentasikan seluruh arsip dari ibu Gusmiati Suid. Ini juga merupakan milik dan persembahan untuk keluarga mendiang Bu Yet," ujar Diana. Ant/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Forum Ulama Satukan Komitmen Tolak Politik Uang di Muktamar ke-35 NU
    Preview komentar:
    Apakah Bank Nagari ada layanan bebas pulsa? Layanan WhatsApp ...
    Apakah Bank Nagari ada layanan bebas pulsa? Layanan WhatsApp ...
  • Cuaca Hari Minggu Cerah Berawan di Sebagian Besar Wilayah Indonesia
    Preview komentar:
    Apakah Bank Nagari ada layanan WhatsApp? Layanan WhatsApp call ...
    Apakah Bank Nagari ada layanan WhatsApp? Layanan WhatsApp call ...
  • 269 Lulusan PT Terpilih untuk Program Magang Nasional di Kemenpar
    Preview komentar:
    Berapa nomor layanan bebas pulsa Bank Nagari? Layanan WhatsApp ...
    Berapa nomor layanan bebas pulsa Bank Nagari? Layanan WhatsApp ...

Nicolas Cage Akhirnya akan Kembali dalam National Treasure 3

1.5 jam yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Rona
Nicolas Cage Akhirnya akan ...
Daerah
Anggota DPR Dorong Perlindu...
NTT Terus Diguncang Gempa Susulan, Sulteng Diterpa Lindu 5,4

NTT Terus Diguncang Gempa Susulan, Sulteng Diterpa Lindu 5,4

23 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.