- Home
-
- Luar Negeri
-
- IEA: Untuk Mencapai Target...
IEA: Untuk Mencapai Target Iklim Butuh Lonjakan Energi Bersih
Kamis, 22 Jun 2023, 00:00 WIBPARIS - Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA), pada Rabu (21/6), mengatakan jika pemanasan global ingin dibatasi pada tingkat yang dapat ditoleransi, pembiayaan untuk energi bersih di negara berkembang, kecuali Tiongkok, harus ditingkatkan tujuh kali lipat dalam satu dekade.
Dikutip dari France 24, menurut badan antarpemerintah itu dalam sebuah laporan, untuk mempertahankan target suhu iklim Kesepakatan Paris, investasi tahunan untuk energi bahan bakar nonfosil di negara-negara berkembang perlu melonjak dari 260 miliar dollar AS menjadi hampir dua triliun dollar AS.
"Membiayai energi bersih di negara berkembang menjadi celah dalam mencapai tujuan iklim internasional," kata Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, kepada wartawan, Selasa (20/6).
Laporan tersebut muncul menjelang KTT dua hari untuk Pakta Pembiayaan Global Baru di Paris, yang berupaya menggalang dukungan untuk membenahi arsitektur pertengahan abad ke-20 yang mengatur arus keuangan dari negara kaya ke negara berkembang.
Mempercepat transisi dari energi kotor ke energi bersih, dan membantu Global South atau Kesenjangan Utara-Selatan mengatasi dan mempersiapkan diri menghadapi dampak iklim yang menghancurkan merupakan agenda utama.
Hampir semua dari hampir 800 juta orang kekurangan listrik dan 2,4 miliar orang tanpa akses ke bahan bakar memasak yang bersih berada di negara-negara miskin dan berkembang.
Pemanasan Global
IEA memperingatkan, di bawah tren kebijakan saat ini, sepertiga dari peningkatan penggunaan energi di negara-negara tersebut selama dekade berikutnya akan dipenuhi oleh pembakaran bahan bakar fosil, pendorong utama pemanasan global.
"Investasi energi bersih meningkat secara bertahap, ini kabar baik. Kabar buruknya adalah lebih dari 90 persen peningkatan energi bersih sejak Perjanjian Paris pada 2015 berasal dari ekonomi maju dan Tiongkok. Hanya 10 persen yang berasal dari negara berkembang. Kita perlu mengubah tren ini," tambah Birol.
Dengan Tiongkok dimasukkan dalam perhitungan, uang pribadi dan publik yang mengalir ke energi terbarukan dan bentuk lain dari energi netral karbon akan membutuhkan lebih dari tiga kali lipat dari 770 miliar dollar AS pada tahun 2022 menjadi sekitar 2,5 triliun dollar AS per tahun pada awal tahun 2030-an.
Investasi harus tetap pada level tersebut hingga pertengahan abad untuk membantu menjaga suhu permukaan rata-rata Bumi "jauh di bawah" dua derajat Celsius, dan 1,5 Celsius jika memungkinkan, masing-masing target yang mengikat dan aspirasi Perjanjian Iklim Paris.
"Ada potensi untuk meningkatkan energi terbarukan dengan cepat," kata laporan tersebut.
Setidaknya 40 persen dari radiasi matahari global yang mencapai di Afrika sub-Sahara, dan energi matahari sekarang menjadi sumber pembangkit listrik termurah di hampir seluruh dunia.
Namun, kapasitas sel surya Solar Photovoltaic (PV) hampir sepuluh kali lebih banyak dipasang tahun lalu di Tiongkok, sekitar 100 gigawatt dibandingkan di seluruh benua Afrika. "Afrika sub-Sahara yang cerah menghasilkan lebih sedikit listrik surya daripada Belanda," kata Birol.
Menurut laporan tersebut, dua pertiga dari pembiayaan untuk proyek energi bersih di negara berkembang tidak termasuk Tiongkok harus berasal dari sektor swasta.
Pembiayaan swasta tahunan sebesar 135 miliar dollar AS untuk energi bersih di negara-negara ini harus meningkat menjadi sekitar satu triliun per tahun dalam dekade berikutnya.
Untuk memenuhi tujuan iklim dan keberlanjutan, menurut IEA, investasi energi bersih di negara berkembang dan berkembang harus dikonsentrasikan di empatbidang.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Suhu Bumi Cetak Rekor Terpanas 11 Tahun, PBB Serukan Aksi Global
-
PLN IP Produksi Energi Bersih Biomassa 1.101,59 GWh pada 2025
-
BRIN Kembangkan Material Inovatif untuk Ciptakan Hidrogen Bersih
-
Permudah Remitansi Pekerja Migran, Finnet Hadirkan Solusi Pembayaran Digital Terintegrasi
-
Pare, Si Pahit yang Punya Banyak Manfaat Kesehatan
-
Krisis Energi Global: IEA Sebut Dampaknya Lebih Parah dari Krisis Minyak 1970-an
-
Eddy Soeparno: Krisis Energi Dunia Momentum Perkuat Ketahanan Energi Nasional
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.