Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

3 Strategi Kurangi Jejak Karbon Pertambangan Mineral Kritis Indonesia

📅 Kamis, 22 Jun 2023, 12:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Secara ekonomi, pemulihan logam dari limbah elektronik dinilai menguntungkan sebab biaya dan ongkos sosialnya diperkirakan lebih rendah dibandingkan penambangan mineral dari bawah tanah. Namun, proses daur ulang harus efisien dan ramah lingkungan untuk memastikan dampak ke lingkungan seminimal mungkin.

Hal ini menjadi tantangan besar. "Penambangan" elemen berharga dari limbah elektronik yang terdiri dari campuran berbagai komponen yang kompleks dan berbahaya sangat rumit. Pengembangan proses pemulihan komponen logam dari limbah elektronik perlu mempertimbangkan aspek efisiensi energi, emisi gas rumah kaca, dan lingkungan.

Proses daur ulang ini harus memiliki efisiensi energi yang tinggi dan tingkat emisi gas rumah kaca yang lebih rendah dibandingkan proses produksi dari mineral bawah tanah agar berdampak positif ke lingkungan. Selain itu, pihak pengolah harus mencegah pencemaran bahan berbahaya dan beracun seperti logam berat, polivinil klorida (PVC), dan bifenil poliklorinasi (PCB) dalam proses daur ulang.

Pemerintah Indonesia dapat mempertimbangkan strategi daur ulang untuk meredam risiko lingkungan dari ekspansi pertambangan mineral kritis untuk infrastruktur energi terbarukan. Selain mengundang perusahaan tambang, pemerintah juga dapat mengajak perusahaan daur ulang berpengalaman untuk beroperasi di tanah air.

Dengan mengimplementasikan setidaknya 3 strategi tersebut, Indonesia berpeluang mencapai praktik pertambangan mineral kritis yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Penerapan program dekarbonisasi serta ekonomi sirkular pada sektor pertambangan merupakan langkah krusial untuk menopang upaya transisi energi nasional.The Conversation

Denny Gunawan, Postdoctoral Fellow, ARC Training Centre for the Global Hydrogen Economy, Particles and Catalysis Research Laboratory, UNSW Sydney; Ibnu Rusydy, PhD Candidate, Minerals and Energy Resources Engineering, UNSW Sydney, dan Putra Hanif Agson Gani, PhD Student, Minerals and Energy Resources Engineering, UNSW Sydney

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Daerah
Anggaran PUPR Karawang Masi...
Nasional
Jelang HUT ke-81 TNI, Pangl...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.