3 Strategi Kurangi Jejak Karbon Pertambangan Mineral Kritis Indonesia
📅 Kamis, 22 Jun 2023, 12:00 WIB | Oleh: Tim PenulisDengan semakin berkembangnya teknologi alat berat berbasis listrik di dunia, sektor pertambangan Indonesia sudah seharusnya mengalokasikan dana untuk program elektrifikasi peralatan tambang.
2. Integrasi energi terbarukan
Integrasi energi terbarukan secara langsung di kawasan pertambangan dan pengolahan mineral juga penting. Konsultan manajemen terkemuka, McKinsey, menyatakan penggunaan energi terbarukan dibandingkan batu bara di sektor pertambangan berpotensi memangkas emisi gas rumah kaca hingga 80%.
Pengembangan sistem pembangkit listrik tenaga surya mikrogrid (terpusat di dalam kawasan pertambangan) dapat menjadi solusi utama. Peluang ini terbuka mengingat biaya panel surya yang semakin murah dan tingginya potensi energi surya di Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penggunaan energi terbarukan di sektor pertambangan Indonesia sudah dimulai. Sebagai contoh, perusahaan tambang Nickel Industries Ltd yang berbasis di Australia menyepakati pembangunan pembangkit listrik tenaga surya di kawasan industri pengolahan nikel PT Indonesia Morowali Industrial Park.
Alternatif lainnya adalah penggunaan hidrogen hijau untuk peralatan tambang atau pun proses pengolahan mineral yang tidak memungkinkan untuk dielektrifikasi secara langsung. Hidrogen hijau diperoleh dari proses elektrolisis alias 'menyetrum' air dari listrik energi terbarukan.
Penggunaan hidrogen sudah dimulai oleh perusahaan tambang asal Inggris, Anglo American, untuk operasional truk tambang platinumnya di Afrika Selatan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain untuk menyalakan kendaraan, hidrogen hijau juga dapat berperan dalam dekarbonisasi proses peleburan bijih logam. Penggunaan hidrogen hijau untuk mengolah bijih besi menjadi produk baja terbukti mampu menurunkan emisi CO2 sebesar 95% dibandingkan proses konvensional menggunakan batu bara. Baja adalah komponen penting berbagai teknologi energi terbarukan, misalnya turbin angin.
3. Daur ulang mineral yang efisien dan ramah lingkungan
Daur ulang mineral kritis dari limbah elektronik adalah langkah yang tidak kalah penting agar industri pertambangan tidak melulu berfokus pada eksploitasi.
Limbah elektronik sudah sepatutnya dipandang sebagai sumber daya logam, sama seperti mineral yang ditambang di bawah tanah. Limbah dapat digunakan kembali sebagai bahan baku produksi teknologi energi terbarukan.
Pada 2021, Indonesia menghasilkan sekitar 2 juta ton limbah elektronik, yang berasal dari komputer maupun ponsel rusak terbanyak di Asia Tenggara.
Dalam limbah elektronik tersebut, terdapat berbagai logam berharga yang dapat dimanfaatkan kembali melalui daur ulang. Misalnya, satu ton limbah ponsel setidaknya mengandung 317,5 gram emas, 2,84 kg perak, dan 156 kg tembaga.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!