Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Rekonstruksi Wajah 'Dinkinesh' untuk Hindari  Bias Rasial

📅 Selasa, 20 Jun 2023, 06:25 WIB | Oleh:
Rekonstruksi Wajah 'Dinkinesh' untuk Hindari  Bias Rasial Doc: Istimewa

Sebelum dilakukan permodelan digital untuk membuat ulang 36 otot di masing-masing kaki hominid AL 288-1 atauDinkineshyang populer dengan nama Lucy, juga telah dilakukan sebuah rekonstruksi wajah. Bersama dengan Anak Taung (The Taung ChildatauTaung Baby), permodelan ini untuk mencari rupa wajah dari keduanya.

Anak Taung adalah fosil tengkorakAustralopithecus africanus(A africanus) muda yang meninggal pada usia 3 tahun. Fosil tersebut ditemukan pada 1924 oleh penambang yang bekerja untuk Northern Lime Company di Taung, Afrika Selatan. Anatomis dan antropologis Raymond Dart menggambarkannya sebagai spesies baru dalam jurnalNaturepada 1925.

Rekonstruksi wajah baru dari dua manusia purba, yang dikenal sebagai Lucy dan Anak Taung, menunjukkan bagaimana rupa kedua individu ini ketika mereka tinggal di Afrika jutaan tahun yang lalu. Tidak seperti rekonstruksi di masa lalu, yang mungkin mengandalkan gagasan buram, sewenang-wenang, atau bahkan rasis untuk merekonstruksi wajah kerabat kuno, penulis rekonstruksi baru memaparkan prosesnya secara transparan.

"Para peneliti menggunakan gips silikon berpigmen, dengan warna kulit Lucy mirip dengan bonobo (Pan paniscus), sedangkan fitur Anak Taung lebih mirip dengan manusia modern asli Afrika Selatan," tulis para peneliti dalam sebuah laporan yang dipublikasikan dalam sebuahblogpada Maret 2021.

Mereka menyatakan rekonstruksi manusia purba cukup rumit. Rekonstruksi lain dari Lucy, Anak Taung, dan manusia purba lainnya dibuat oleh seniman yang membuat asumsi yang tidak dapat diuji dengan sains saat ini, termasuk apakah spesies purba ini lebih mirip kera atau manusia modern.

Kerumitan lain adalah bagaimana jaringan lunaknya, termasuk ototnya dan ketebalan kulit mereka, muncul. Rekonstruksi ini sering ditemukan di museum sejarah alam dan dimaksudkan untuk mendidik masyarakat tentang evolusi manusia.

Jadi, apa yang harus dilakukan? Pertama, seniman, ilmuwan, dan museum mungkin ingin mengakui bahwa rekonstruksi saat ini lebih merupakan seni daripada sains. "Metode untuk mencapai rekonstruksi yang dibenarkan secara ilmiah masih belum cukup dalam genggaman kami, meskipun banyak seniman dan institusi siap beriklan," tulisnya peneliti pendamping Gabriel Vinas, seorang seniman pahatan di Arizona State University.

Masalah lainnya adalah bahwa beberapa rekonstruksi, termasuk yang 2D, dan tampilannya bersifat rasis atau tidak akurat. Oleh karena itu dalam merekonstruksi wajah Lucy dan Anak Taung, para peneliti mencoba yang terbaik untuk menjauh dari intuisi, dan sebaliknya secara ilmiah akurat dan transparan dalam metode mereka. hay/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Halaman Rubrik
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
Nasional
Jadwal TKA untuk Jenjang SM...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.