Ekonomi Global Melambat, RI Harus Kurangi Impor
📅 Selasa, 06 Jun 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ISTIMEWA
» Raksasa ekonomi terbesar kedua dunia, Tiongkok dengan perkiraan PDB tumbuh 5,5 persen pada 2023.
» Untuk negara maju justru mengalami perlambatan karena ketatnya pasar tenaga kerja dan kondisi ketidakpastian pasar keuangan global.
JAKARTA - Indonesia perlu berhati-hati dalam menyikapi dinamika perekonomian dunia, terutama kondisi pertumbuhan ekonomi negara mitra dagang utama seperti Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Tiongkok. Perlunya meningkatkan kewaspadaan itu disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (5/6).
"Perekonomian kita masih ekspansif. Di satu sisi tetap optimis, tapi di sisi lain tetap harus hati-hati karena memang risikonya cukup nyata," kata Menkeu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Khusus perekonomian nasional, beberapa indikator masih ekspansif seperti terlihat pada optimisme masyarakat yang menguat serta peningkatan Mandiri Spending Index. Namun demikian, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur menunjukkan kinerja yang perlu diwaspadai. Data terbaru menunjukkan PMI berada di level 50,3 pada Mei 2023, lebih rendah dari indeks April 2023 yang tercatat 52,7.
"PMI manufaktur melemah dibanding bulan lalu. Namun, kita masih ekspansif. Kalau kita lihat negara-negara lain masih kontraktif, bahkan Vietnam yang selama ini dalam posisi kuat juga sedang dalam posisi kontraktif," paparnya.
Lebih lanjut dikatakan, pertumbuhan ekonomi mitra dagang masih tertekan. Meski perekonomian AS masih tangguh dan tidak masuk ke dalam jurang resesi, namun pertumbuhannya hanya sedikit berada di atas 1 persen. Sementara itu, rata-rata pertumbuhan ekonomi di Eropa hanya berkisar 0 hingga 1 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di sisi lain, Tiongkok mengalami pertumbuhan yang moderat, yakni di kisaran 3 persen pada kuartal I-2023. Pertumbuhan tersebut jauh lebih rendah dari prakiraan sebelumnya ketika mereka membuka kembali perekonomian dan mobilitas masyarakatnya.
"Ini menggambarkan bahwa higher for longer bisa menghasilkan perekonomian weaker for longer juga, baik untuk Eropa, Amerika, dan eksternal kita, termasuk Tiongkok," katanya, seperti dikutip dari Antara.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global mencapai 2,8 persen pada tahun 2024, sedangkan tahun ini sedikit lebih rendah yaitu 2,7 persen. Pertumbuhan itu terutama didukung oleh pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang yang diperkirakan akan lebih baik seperti India dan Asean-5.
Produk Domestik Bruto (PDB) India tahun ini diperkirakan tumbuh 5,8 persen dan tahun depan mencapai 6,2 persen. Pertumbuhan tersebut disebabkan oleh faktor meningkatnya permintaan domestik yang cukup kuat di India.
Begitu juga dengan negara-negara Asean-5 yang mencakup Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. PDB negara Asean-5 tumbuh 5,1 persen pada 2023, dan diprediksi terus mengalami pertumbuhan 5,5 persen pada 2024.
Pertumbuhan yang sama juga terjadi pada raksasa ekonomi terbesar kedua dunia yaitu Tiongkok dengan perkiraan PDB tumbuh 5,5 persen pada 2023, meskipun diprediksi mengalami penurunan jadi 4,8 persen pada 2024.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!