Tanpa Jaminan Hari Tua, Banyak Lansia Terjerat Kemiskinan
📅 Sabtu, 20 Mei 2023, 09:44 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo
Titik Munawaroh, Universitas Gadjah Mada
Indonesia kini tengah menghadapi fase penuaan penduduk. Proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas terus meningkat seiring turunnya dengan menurunnya tingkat kelahiran dan naiknya usia harapan hidup.
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020, proporsi penduduk berumur 60 tahun ke atas sebesar 9,9%. Angka ini naik dari 7,6% pada 2010 dan diproyeksikan mencapai 19,85% pada 2045.
Masalahnya, fenomena ini tak diimbangi dengan jaminan kesejahteraan yang layak bagi penduduk lanjut usia (lansia), yang banyak di antaranya hidup di dalam kemiskinan. Akibatnya, banyak di antara mereka yang masih harus bekerja demi menyambung nyawa.
Kemiskinan ini perlu mendapat perhatian agar tak membebani fiskal negara dan agar lansia terhindar dari paparan risiko dari bekerja di usia lanjut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kemiskinan memaksa lansia bekerja
Badan Pusat Statistik (BPS), sebagai lembaga pemerintah yang menghitung tingkat kemiskinan makro, tidak mengategorikan kemiskinan menurut kelompok umur sehingga masih sangat minim informasi resmi tentang kemiskinan lansia.
Namun, menurut Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan SMERU, kemiskinan lansia pada 2019 adalah 11,1% lebih tinggi dibandingkan kemiskinan nasional yang berada pada level 9,4%.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, meski tidak merilis tingkat kemiskinan menurut kelompok umur, namun BPS dalam Statistik Penduduk Lanjut Usia menyebutkan persentase lansia menurut kelompok pengeluaran. Secara umum, kelompok pengeluaran dikategorikan menjadi 20% teratas, 40% menengah, dan 40% terbawah.
Pada 2018, proporsi lansia yang hidup dalam kelompok pengeluaran 40% terbawah adalah 44,45% (2018) dari kelompok umur tersebut. Sementara pada 2022, persentasenya berkisar di angka 41,11% (2022). Walaupun menunjukan tren penurunan, 4 dari 10 lansia masih berada di kelompok 40% terbawah.
Berdasarkan data BPS, 1 dari 2 lansia masih bekerja. Berkaca pada definisi BPS, bekerja adalah kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh penghasilan selama satu jam berturut-turut. Bekerja merupakan salah satu bentuk dari strategi bertahan hidup dan memenuhi sebagian besar kebutuhan dasar manusia.
Memang, lansia bisa saja bekerja karena pilihan mereka sendiri, seperti demi kepuasan hidup, kesehatan atau uang, atau demi jejaring sosial dan memanfaatkan ilmunya.
Namun, penelitian saya dan tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan bahwa kemiskinan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan lansia masih bekerja demi menyambung hidup.
Temuan kami menunjukkan bahwa lansia miskin memiliki peluang berpartisipasi di angkatan kerja 1,5 kali lebih besar dibanding lansia tidak miskin dan memiliki peluang bekerja 1,7 kali lebih besar dibanding lansia tidak miskin.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!