- Home
-
- Luar Negeri
-
- Rusia Menolak Pembayaran I...
Rusia Menolak Pembayaran Impor oleh India Gunakan Rupee
Minggu, 14 Mei 2023, 15:49 WIBNEW DELHI - India dan Rusia baru-baru ini dilaporkan sama-sama telah menangguhkan pembahasan penggunaan mata uang rupee dalam perdagangan bilateral kedua negara. Hal itu diungkapkan oleh dua pejabat India, setelah negosiasi berbulan-bulan gagal meyakinkan Moskow untuk menggunakan rupee.
Dilansir oleh The Online Citizen, perkembangan itu adalah kemunduran besar bagi importir India yang kerap membeli minyak dan batu bara murah dari Rusia, yang berharap rencana itu dapat terwujud.
"Saat ini, Rusia mengalami surplus perdagangan dengan India dan merasa akumulasi rupee tidak diinginkan," kata seorang pejabat India yang tidak mau disebutkan namanya.
India mulai menjajaki mekanisme pembayaran rupee dengan Rusia segera setelah invasi Ukraina pada Februari tahun lalu. Baik Rusia dan India telah berbicara tentang memfasilitasi perdagangan dalam mata uang lokal, tetapi pedoman tersebut tidak diformalkan.
Rupee tidak sepenuhnya dapat dikonversi pada saat ini. Porsi ekspor barang global India hanya sekitar 2 persen, dan faktor-faktor ini mengurangi kebutuhan negara lain untuk menyimpan rupee, yang berarti tidak ada permintaan untuk rupee internasional.
Menurut pejabat kedua India kepada Reuters, Rusia telah mengatakan kepada India bahwa negara itu merasa tidak aman memegang rupee dan ingin dibayar dalam yuan Tiongkok atau mata uang lainnya.
"India telah mencoba semua yang bisa tetapi Rusia tidak menganggap menerima pembayaran dalam rupee menarik," ujarnya.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina tahun lalu, impor India dari Rusia telah meningkat menjadi 51,3 miliar dolar AS hingga 5 April, dari 10,6 miliar dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Minyak Rusia yang didiskon telah menjadi bagian besar dari impor India, melonjak dua belas kali lipat dalam periode tersebut. Namun ekspor dari India pada periode yang sama turun menjadi 3,43 miliar dolar AS.
Sumber tersebut mengatakan, perdagangan India dengan Rusia terus berlanjut meskipun ada sanksi dan masalah pembayaran. "Saat ini kami melakukan beberapa pembayaran dalam dirham (UEA) dan beberapa mata uang lainnya tetapi mayoritas masih dalam dolar. Penyelesaian terjadi dengan cara yang berbeda, negara pihak ketiga juga digunakan," kata salah satu pejabat India.
Tiongkok disebut sebagai salah satu negara pihak ketiga.
Rupee India turun 60 persen sejak penandatanganan CECA
Sementara itu, sejak penandatanganan Perjanjian Kerjasama Ekonomi Komprehensif arau Comprehensive Economic Cooperation Agreement (CECA) pada 29 Juni 2005, Rupee India telah jatuh hampir 60 perseb terhadap Dolar Singapura. Faktanya, rupee telah jatuh bebas terhadap SGD sejak enam dekade lalu.
Dan tidak mengherankan, Singapura adalah kontributor utama aliran masuk dana asing India setelah penandatanganan CECA. Investasi langsung asing (FDI) India mencapai 58,8 miliar dolar AS pada 2021-22, dengan Singapura muncul sebagai kontributor teratas di antara daftar 15 negara, menurut laporan berita tahun lalu.
Tidak diketahui apakah GIC dan Temasek menghasilkan pengembalian investasi yang baik di India, dalam hal SGD, setelah bertahun-tahun berinvestasi di India.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Alokasi Dana Desa Bengkulu 2026 Capai Rp377,08 Miliar
-
Marc Marquez Masuk Nominasi Laureus World Sportsman of the Year 2026
-
Ramadan Berkah: UMKM Dodol Betawi di Bekasi Banjir Orderan
-
Jepang akan Gabung Sistem Pertahanan Rudal AS Golden Dome
-
RI Bidik Minyak Rusia—Pertamina Siap Eksekusi Arahan Pemerintah
-
LA Lakers Menang Tipis 105-104 atas Orlando Magic
-
Dampak Geopolitik Global, Harga Referensi CPO dan Biji Kakao Kompak Naik di Bulan Mei
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.