Investasi Dana Nasabah Bikin Bank Global Ambruk, Apa Dampaknya ke Indonesia?
📅 Kamis, 06 Apr 2023, 11:18 WIB | Oleh: Tim PenulisNamun, penelitian empiris menunjukkan bahwa perbankan Indonesia tidak terlalu terintegrasi dengan perbankan global. Sehingga, dampak langsung dari krisis perbankan global terhadap perbankan Indonesia cenderung lemah.
Sementara itu, dampak tidak langsung krisis perbankan ini dapat muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya, mitra usahanya perusahaan Indonesia yang berada di AS dan Eropa yang terkena dampak dari kolapsnya bank-bank global bisa saja terpaksa menurunkan permintaan barang dari Indonesia. Hal ini mengakibatkan turunnya nilai ekspor Indonesia.
Atau, bisa juga bank-bank global menarik modal dan investasi dari Indonesia karena kesulitan keuangan. Keluarnya dana asing dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah.
Ini juga mengakibatkan kesulitan mendapatkan pendanaan atau pinjaman dari bank-bank global yang sedang berusaha mengurangi risiko. Situasi ini juga dapat mempengaruhi perkembangan startup Indonesia yang selama ini banyak mengandalkan pendanaan dari investor luar negeri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pelajaran untuk Indonesia
Salah satu pelajaran terpenting yang bisa kita petik dari krisis perbankan global ini adalah bagaimana model bisnis perbankan yang lebih mengedepankan investasi cenderung memiliki risiko yang lebih besar. Sehingga, perbankan perlu melakukan tata kelola risiko dan diversifikasi portofolio dengan baik.
Selain itu, penting untuk melakukan diversifikasi jenis nasabah bank, sehingga tidak mengulang kesalahan bank-bank yang hampir seluruh nasabahnya berasal dari perusahaan startup.
Sebaiknya Anda baca juga:
Misalnya saja, bank-bank di Indonesia sebaiknya tidak hanya fokus pada satu target pasar nasabah - seperti usaha mikro kecil dan menengah atau hanya fokus perusahaan eksportir - tapi memastikan bahwa nasabahnya berasal dari industri yang beragam.
Dari sisi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kasus perbankan global ini memberi sinyal permasalahan di regulasi dan pengawasan.
Pertama, regulator ternyata sangat terbatas dalam mengatur aktivitas investasi yang agresif dilakukan oleh bank-bank investasi. Risiko moral (moral hazard) - situasi ketika satu pihak menyepakati suatu transaksi dengan kesadaran bahwa akan ada pihak lain yang menanggung kerugian - seringkali membuat mereka (bank dan institusi keuangan lainnya) mengabaikan risiko yang telah diidentifikasi sebelumnya.
Kedua, sistem pengukuran risiko di sektor keuangan saat ini tidak mampu mengidentifikasi secara akurat krisis keuangan yang sedang terjadi. Ambruknya SVB secara tiba-tiba menunjukkan tidak adanya metode pengukuran yang betul-betul efektif untuk menangkap terjadinya potensi kolaps.
Oleh karena itu, OJK perlu menerapkan evaluasi berkala terhadap manajemen risiko perbankan, persyaratan modal yang lebih ketat bagi bank-bank yang lebih besar atau memiliki risiko lebih tinggi, dan peraturan yang lebih kuat terkait pelaporan keuangan dan transparansi. Sanksi yang lebih tegas bagi bank-bank yang melanggar aturan juga perlu diatur.
Sebagai tambahan, regulator seperti Bank Indonesia dan OJK perlu bekerja sama bersama universitas untuk membuat sebuah alat pengukuran risiko yang lebih andal.![]()
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!