Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Legalisasi Ganja, Negara ASEAN Sebaiknya Tidak Mencontoh Thailand, Ini Alasannya

📅 Sabtu, 01 Apr 2023, 10:29 WIB | Oleh: Tim Penulis

Jangka waktu singkat yang hanya empat tahun sejak legalisasi ganja medis bisa dibilang berkontribusi pada kurangnya keahlian di antara pejabat kesehatan untuk merumuskan mekanisme hukum yang kuat dan dapat mencegah penyalahgunaan ganja.

Mengingat celah hukum terkait ganja di Thailand, Kanada dapat menjadi contoh studi kasus yang lebih baik bagi negara-negara Asia Tenggara yang ingin meliberalisasi aturan narkoba mereka.

Meskipun Kanada telah melegalkan ganja rekreasi sejak 2018, apa yang terjadi sebelum tahun tersebut bisa menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara yang kini tengah berusaha untuk melegalkan ganja medis.

Hingga 2018, untuk mencegah konsumsi ganja rekreasional, masyarakat di Kanada diwajibkan untuk mendapatkan "dokumen medis" dari praktisi medis yang terkualifikasi sebelum diizinkan membeli ganja untuk keperluan medis.

Dokumen medis tersebut mirip dengan resep obat dari dokter. Biasanya mencakup nama pasien, tanggal lahir, informasi dokter, dosis harian, dan lama penggunaan.

Jika pasien memiliki ganja medis ketika dokumen medisnya sudah kadaluwarsa, mereka dapat dituntut pidana.

Selain itu, warga Kanada hanya dapat membeli ganja medis dari produsen yang disetujui oleh Health Canada, departemen yang bertanggung jawab atas kebijakan kesehatan negara tersebut.

Peraturan yang berlaku saat itu mengamanatkan produsen berlisensi untuk menerapkan keamanan dan kontrol inventaris untuk mencegah penggunaan oleh pihak yang tidak membutuhkan dan berkepentingan. Praktik produksi yang baik juga dilakukan untuk memastikan bahwa ganja yang akan dikonsumsi lolos kontrol kualitas sebelum disalurkan untuk tujuan medis.

Dengan aturan lisensi ganja yang begitu ketat, Kanada lebih berhasil dalam mengatur ganja medis. Jadi, untuk negara-negara yang hendak mengeksplorasi legalisasi ganja medis, Kanada bisa menjadi panutan yang lebih baik daripada Thailand.The Conversation

Kevin Zhang, Senior Research Officer, ISEAS-Yusof Ishak Institute dan Siti Suhaila Harith, Research Intern, ISEAS-Yusof-Ishak Institute

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Megapolitan
Pemkot Bogor Gaspol Tekan S...
Advertisement
Hasil UEFA Nations League: Inggris Catatkan Kemenangan Terbesar Pertama Usai Hancurkan Kroasia 7-0

Hasil UEFA Nations League: Inggris Catatkan Kemenangan Terbesar Pertama Usai Hancurkan Kroasia 7-0

04 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.