Sampah Antariksa, Seberapa Berbahayakah bagi Kita di Bumi?
📅 Kamis, 30 Mar 2023, 15:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Humas Polda Kalteng
Fabian Zander, University of Southern Queensland
Dalam seminggu terakhir saja, kita telah melihat dua insiden dari sampah antariksa yang jatuh kembali ke Bumi di tempat-tempat yang tidak terduga.
Pada hari Sabtu, terdapat kejadian jatuhnya roket Long March 5B milik Cina di atas Malaysia. Beberapa media kemarin melaporkan adanya beberapa bagian dari pesawat luar angkasa yang muncul di wilayah New South Wales, Australia - yang sekarang dikonfirmasi berasal dari misi luar angkasa SpaceX Crew-1.
Seiring dengan berkembangnya industri pesawat luar angkasa, dapat dikatakan bahwa insiden semacam ini akan semakin sering terjadi dan hal ini dapat menimbulkan risiko. Namun, seberapa besar risiko sampah antariksa jatuh ke Bumi?
Apa itu Sampah Antariksa? Bongkahan Besi yang Meluncur ke Arah Kita
Sebaiknya Anda baca juga:
Sampah antariksa merujuk pada komponen sisa dari sistem antariksa yang sudah tidak diperlukan lagi. Mereka bisa berupa satelit yang telah mencapai akhir masa pakainya (seperti Stasiun Luar Angkasa Internasional) atau bagian dari sistem roket yang telah digunakan dan dibuang.
Hingga saat ini, Cina telah meluncurkan tiga roket Long March 5B dan masing-masing roket tersebut sengaja dibiarkan berada di orbit yang tidak terkendali. Ini berarti tidak ada cara untuk mengetahui di mana mereka akan mendarat.
Sedangkan untuk sampah antariksa SpaceX yang ditemukan di Snowy Mountains, New South Wales, Australia, SpaceX melepaskan bagian-bagian roketnya secara terkendali dan mendesain komponen lain untuk terbakar saat masuk kembali ke atmosfer Bumi. Namun, seperti yang bisa kita lihat dari berita-berita terbaru, semua ini tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Sebaiknya Anda baca juga:
Jadi, Seberapa Berbahayakah Sampah Antariksa Itu?
Sejauh yang kami tahu, hanya satu orang yang pernah tertimpa puing-puing itu.
Lottie Williams, seorang penduduk Tulsa, Oklahoma, pernah tertimpa oleh sebuah puing pada tahun 1997. Benda itu seukuran tangannya dan diperkirakan berasal dari roket Delta II. Dia memungutnya, membawanya pulang dan melaporkannya ke pihak berwenang keesokan harinya.
Namun, dengan semakin banyaknya objek yang pergi ke luar angkasa dan kembali ke bumi, kemungkinan seseorang atau sesuatu tertimpa benda-benda tersebut semakin besar. Hal ini terutama terjadi pada objek besar yang tidak terkendali seperti Long March 5B.
Dari tiga kali peluncuran roket model ini:
- Yang pertama mengorbit kembali pada 11 Mei 2020, dengan komponen yang mendarat di sebuah desa di Afrika
- yang kedua meluncur kembali pada 9 Mei 2021, dekat Maladewa
- yang ketiga masuk kembali pada hari Sabtu di atas Indonesia dan Malaysia, dengan serpihan-serpihan yang mendarat di sekitar pulau-pulau di kedua negara tersebut.
Jadi, Apakah Kita Harus Khawatir?
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!