Jepang Berpaling Ke Jagung Guna Tingkatkan Ketahanan Pangan
📅 Minggu, 19 Mar 2023, 22:21 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: AFP
TOKYO - Invasi Russia ke Ukraina bersama dengan sejumlah isu global lainnya telah mengakibatkan melonjaknya harga pangan. Situasi ini telah membuat fokus baru terhadap ketahanan pangan, terutama bagi negara-negara seperti Jepang yang banyak mengandalkan impor.
Para peternak di Jepang utara mengatasi masalah ini dengan menghasilkan pakan ternak mereka sendiri dan bukannya mengandalkan pengiriman dari luar negeri. Jagung yang dihasilkan di dalam negeri diperkirakan akan mengurangi biaya serta memastikan pasokan yang stabil dan bisa diandalkan.
Selama beberapa bulan terakhir, babi di peternakan Shiwahime Swaine di Provinsi Miyagi, Jepang utara, telah diberi pakan yang kebanyakan terdiri dari jagung dan beras. Semua yang dimakan ternak tersebut ditanam di Jepang.
Peternak Teruyoshi Ishikawa berencana menjual 1.000 babi yang dimilikinya dan akan mempromosikan fakta bahwa hewan-hewan itu diberi makanan yang dihasilkan di dalam negeri. Ini merupakan nilai jual yang juga menandai peralihan metode.
Sekitar 80 persen pakan hewan di Jepang berasal dari impor. Harganya kini 50 persen lebih tinggi dibandingkan dua tahun lalu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam hal kemandirian pangan secara keseluruhan, Jepang menghasilkan hanya 38 persen dari konsumsi kalori populasinya. Ini merupakan tingkat terendah di kalangan negara-negara G7.
Ishikawa mengatakan biaya yang melonjak serta kekhawatiran pasokan telah membuat dirinya membuat perubahan. "Tingkat kemandirian pangan Jepang terlalu rendah. Saya pikir sangat penting untuk memfokuskan pada produksi domestik, termasuk atas petani jagung dan peternak seperti saya," ucap Ishikawa.
Jagung bagi ternak babi Ishikawa berasal dari kota yang bersebelahan, Wakuya. Para petani di sana baru saja melakukan panen pertama tahun lalu. Para pejabat kota mendorong mereka untuk kembali ke jagung karena jagung telah menjadi lebih mahal dan juga memerlukan lebih sedikit upaya daripada padi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seperti halnya di kebanyakan pedesaan Jepang, tenaga kerja yang tersedia bagi pertanian jumlahnya menurun akibat populasi yang menua dan para petani kerap merasa terlalu banyak bekerja.
Pejabat kota itu, Koji Fujisaki, menjelaskan bahwa padi merupakan tanaman andalan kota itu, tetapi memerlukan banyak upaya dari petani. Ditambahkannya, produksi jagung memerlukan tenaga kerja lebih sedikit, sehingga pihaknya memutuskan untuk menerapkannya.
Para petani yang beralih dari padi ke jagung bisa menggunakan peralatan yang telah dimiliki. Mereka juga menerima konsultasi teknis gratis dari para pakar pertanian.
Jumlah jam kerja yang dibutuhkan untuk menghasilkan jagung adalah sekitar satu perlima dari padi. Para petani di Wakuya berharap panen tahun ini akan menghasilkan jagung yang lebih banyak dan lebih baik.
Tatsuya Oikawa, salah seorang petani yang terlibat, menyebutkan meskipun subsidi pemerintah memberikan hasil yang setimpal saat ini, jagung punya potensi untuk menghasilkan profit. Ia juga berharap tangkai dan bagian lain tanaman itu akan menyuburkan tanahnya.
Oikawa menyokong peralihan tanaman dalam negeri. "Saya kira akan ideal bagi para petani Jepang untuk menghasilkan jagung bagi pakan ternak dalam negeri," ucap dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!