Tantangan Besar demi Selamatkan Pesut Sungai Irrawaddy dari Kepunahan
📅 Sabtu, 18 Mar 2023, 02:14 WIB | Oleh: Tim PenulisDitemukan di air tawar dan air asin, jumlah pesut Irrawaddy sedikit lebih banyak di daerah pesisir Asia selatan dan tenggara, meskipun di sana pun mereka digolongkan terancam punah. Menambah kekhawatiran tentang masa depan pesut Mekong, saat ini hanya sekitar 70 persen populasinya sudah terlalu tua untuk berkembang biak.
Sebelas pesut Mekong mati tahun lalu, dan pada Desember lalu kematian tiga pesut sehat yang sedang berkembang biak karena terjerat jaring dan tali pancing dalam waktu sepekan telah menimbulkan kekhawatiran khusus di kalangan konservasionis.
"Ini semacam tanda yang mengkhawatirkan," kata Seng Teak, Direktur WWF-Kamboja, kepadaAFP. "Kami membutuhkan banyak hal untuk memastikan bahwa spesies ini terus bertahan hidup di Mekong," imbuh dia seraya menyerukan kepada pemerintah untuk memobilisasi lebih banyak sumber daya untuk melindungi pesut ini.
Pada akhir Februari lalu, Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, mengeluarkan undang-undang baru yang menciptakan zona perlindungan di mana penangkapan ikan dilarang.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Jika mereka (nelayan) memasang jaring di kawasan konservasi, kami akan menangkap dan mengirim mereka ke pengadilan," kata Ponlork.
Sejauh ini, dorongan ekstra dari pemerintah tampaknya membuahkan hasil karena sejauh ini belum ada lagi laporan kematian dan hal ini memberikan secercah harapan.
"Kami mendapat kabar dari operator kapal wisata bahwa ada bayi pesut telah lahir beberapa hari lalu," kata Ponlork.
Sebaiknya Anda baca juga:
Banyak penduduk setempat yang mencari nafkah dengan membawa turis untuk melihat pesut atau menjual souvenir, juga mengkhawatirkan atas masa depan mamalia tersebut.
"Jika lumba-lumba hilang, kami habis karena penghasilan kami berasal dari pesut itu," kata Meas Mary, 53 tahun, yang bisa menghasilkan hingga 15 dollar AS sehari dengan menjalankan perjalanan perahu. "Sebelumnya ada banyak pesut. Sekarang mereka menghilang. Saya sangat khawatir," imbuh dia. AFP/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!