4 Fakta Sepekan Gempa Bumi Dahsyat Turki-Suriah
📅 Senin, 13 Feb 2023, 14:26 WIB | Oleh: Rivaldi Dani Rahmadi
Doc: Reuters
Gempa dahsyat mengguncang berkekuatan magnitudo 7,8 mengguncang Turki dan Suriah pada pekan lalu yakni Senin (6/2). Kini, korban terus bertambah sepekan pascagempa terjadi.
Sejauh ini, tim penyelamat terus melakukan upaya pencarian para korban yang dilaporkan hilang setelah gempa dahsyat yang mengguncang Turki dan Suriah. Masih banyak korban diyakini masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
Berikut sejumlah fakta sepekan gempa Turki-Suriah.
1. Korban Tewas Tembus 34 Ribu Jiwa
Korban tewas akibat gempa dahsyat berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang Turki dan Suriah pada pekan lalu dilaporkan terus bertambah. Saat ini, jumlah korban tewas naik menjadi lebih dari 34.179 sejak Senin (6/2) hingga Minggu (12/2).
Sebaiknya Anda baca juga:
Pusat Koordinasi Darurat Turki melaporkan, korban tewas akibat gempa dahsyat pada pekan lalu di Turki mencapai 29.605 jiwa. Sementara, korban tewas di Suriah telah mencapai 4.574 orang, menurut laporan CNN International.
2. Gempa Susulan
Badan Manajemen Bencana Turki (AFAD) melaporkan adanya gempa susulan yang terjadi di pusat gempa sebelumnya pada Minggu (12/2). Adapun gempa susulan yang terjadi berkekuatan magnitudo 4,6.
Sebaiknya Anda baca juga:
3. PBB Akui Kesulitan Salurkan Bantuan Kemanusiaan ke Suriah
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam kendala pengiriman bantuan kemanusiaan untuk wilayah terdampak gempa di Suriah yang dilanda perang.
Konvoi PBB dengan perbekalan untuk Suriah barat laut tiba melalui Turki, tetapi kepala bantuan badan itu Martin Griffiths mengatakan lebih banyak lagi yang dibutuhkan untuk jutaan orang yang rumahnya hancur.
"Sejauh ini kami telah mengecewakan orang-orang di Suriah barat laut. Mereka merasa ditinggalkan. Mencari bantuan internasional yang belum tiba," kata Griffiths di Twitter, dikutip dari AFP.
"Tugas saya dan kewajiban kami adalah memperbaiki kegagalan ini secepat mungkin," lanjutnya.
Bantuan lambat tiba di Suriah, di mana konflik bertahun-tahun telah merusak sistem perawatan kesehatan, dan sebagian negara tetap berada di bawah kendali pemberontak yang memerangi pemerintah Presiden Bashar al-Assad, yang berada di bawah sanksi Barat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!