The Last of Us: Serial Adaptasi Gim Video Terbaik yang Pernah Ada
📅 Senin, 06 Feb 2023, 19:40 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: HBO
Adaptasi gim video sangat susah diterjemahkan menjadi karya seni yang serius. Dalam satu dekade terakhir, adaptasi gim yang baik berakhir menjadi tontonan keluarga yang dibuat dengan cermat, seperti Sonic the Hedgehog dan Detective Pikachu.
Adaptasi buruk di genre ini biasanya dipenuhi dengan hal-hal medioker sinis dan merupakan kegagalan yang tak layak tonton.
Kesulitan dalam membuat film adaptasi gim video bisa dibilang berlipat ganda. Video gim tak bisa sekonyong-konyong diterjemahkan menjadi film atau serial televisi, meski cenderung bisa menyampaikan alur cerita yang menarik dengan caranya sendiri. Terlebih, bila orang-orang yang mendanai atau bertanggung jawab atas pembuatan filmnya tak menghargai apa yang membuat gim-gim ini layak diadaptasi.
Kedua masalah ini tak berlaku untuk adaptasi luar biasa sembilan episode serial HBO, The Last of Us, yang dianggap sebagai salah satu gim video dengan kisah terhebat yang pernah ada.
The Last of Us dirilis pertama kalinya pada 2013, dengan latar kehancuran AS pasca-apokaliptik, 20 tahun setelah jamur parasit bernama Cordyceps mengubah sebagian besar populasi menjadi monster tak berakal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tokoh protagonisnya adalah seorang penyelundup berwatak keras bernama Joel, dalam versi serial dimainkan oleh Pedro Pascal. Dia ditugasi mengawal Ellie (Bella Ramsey), seorang gadis remaja dengan kekebalan langka terhadap infeksi jamur.
Dalam wawancara dengan The New Yorker, penulis sekaligus sutradara Neil Druckmann mengenang bagaimana pada 2014, sebuah film adaptasi gagal karena para eksekutif ingin membuatnya lebih besar dan lebih seksi, seperti film Brad Pitt, World War Z.
Gim The Last of Us sendiri menawarkan cerita yang lebih intim, studi karakter dengan kedalaman yang mencengangkan dalam gameplay sepanjang sekitar 15 jam. Kisahnya membakar, gelap, keras, lambat; kental dengan suasana melankolis dan ketakutan; sangat dipengaruhi oleh estetika prestise televisi dan bioskop.
Sebaiknya Anda baca juga:
Druckmann sendiri merujuk film Coen Brothers, No Country for Old Men sebagai pijakan. Esensi inilah yang dengan cekatan ditangkap dalam iterasi layar kecil oleh Druckmann dan co-showrunner Craig Mazin, penulis di balik drama HBO 2019, Chernobyl, yang memiliki atmosfer sama gelapnya.
Serial ini menjadi adaptasi yang setia dalam segala hal, mulai dari tampilan, musik latar, hingga nuansa, terlebih dalam episode-episode awal yang alurnya taat dengan versi video gim.
Kita bertemu dengan ayah yang penuh kasih, Joel, pada hari di mana wabah pecah. Dia mati-matian berusaha menjaga putrinya, Sarah (Nico Parker), supaya aman dari Texas yang kacau dan runtuh.
Orang-orang yang terinfeksi pada awalnya bergerak cepat dan seperti gila.
20 tahun kemudian, Cordyceps menyebar dari otak ke seluruh tubuh, menciptakan serangkaian keganjilan.
Makhluk paling menakutkan adalah Clickers, yang matanya tertutup jamur dan berarti mereka memiliki pendengaran yang sangat sensitif. Cara mereka melengking, cara mereka menyentak, cara mereka memaksa karakter di sekitarnya meredam suara dengan cara benar-benar diam, adalah kengerian bagi penonton.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!