Kenaikan Suku Bunga Harus Diimbangi Kebijakan Fiskal
📅 Rabu, 19 Okt 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiSebab itu, diperlukan kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk menghidupkan kembali penyaluran kredit perbankan kepada korporasi.
Daya Beli
Pengamat Ekonomi dari Universitas Indonesia (UI), Teuku Riefky, mengatakan kenaikan suku bunga akan memicu perlambatan ekonomi, sehingga perlu didorong dari sisi fiskalnya, makroprudensial dan reformasi struktural untuk menjaga daya beli masyarakat dan peningkatan produktivitas jangka panjang. "Saat perlambatan terjadi, maka pemerintah harus siap melindungi daya beli masyarakat miskin dan rentan," kata Teuku.
Reformasi struktural pun perlu terus dilakukan untuk menjaga agar perlambatan ekonomi tidak menyebabkan pelambatan produktivitas dalam jangka panjang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudisthira, mengatakan perlu ada relaksasi di sisi konsumen berupa pengurangan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) dari 11 persen menjadi 8 persen untuk membantu konsumen rumah tangga kelas menengah yang merupakan motor utama pertumbuhan ekonomi sekaligus membantu kenaikan omzet pelaku usaha ritel.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Maruf, mengatakan pemerintah harus berani mengambil kebijakan kuat yang kuncinya adalah orientasi pada ekonomi dalam negeri.
"Gunakan momentum sekarang ini untuk benar-benar berani mengurangi impor secara nyata.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!