Siapkan Langkah Darurat untuk Antisipasi Kenaikan Harga Pangan
📅 Selasa, 05 Jul 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Sumber: BPS – Litbang KJ/ones/and
» Pemerintah diminta mengaktifkan kembali program lumbung pangan berbasis desa dan komunitas.
» Ketersediaan dan ketersebaran pangan harus dijaga untuk menekan laju inflasi.
JAKARTA - Pemerintah diminta mewaspadai laporan Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal bulan Juli yang mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2022 mengalami inflasi sebesar 0,61 persen secara bulanan atau month to month (mtm), sehingga secara tahunan inflasi IHK Juni sudah tercatat 4,35 persen. Inflasi yang sudah melampaui target tersebut dipengaruhi oleh peningkatan inflasi kelompok volatile food, utamanya beberapa komoditas hortikultura, seperti cabai, tomat, dan bawang.
Peneliti masalah sosial ekonomi di Swara Nusa Institute, Yogyakarta, Iranda Yudhatama, yang diminta pendapatnya dari Jakarta, Senin (4/7), mengatakan untuk menyikapi ancaman krisis pangan dan energi, sudah seharusnya pemerintah menyiapkan contingency plan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam bidang pangan, pemerintah sebaiknya mulai mengaktifkan kembali kebijakan dan program lumbung pangan berbasis desa dan komunitas sebagai bagian dari perwujudan ketahanan pangan.
"Sebisa mungkin mengurangi kebergantungan terhadap impor bahan pangan. Mana yang bisa disubstitusi, segera kembangkan produksi dan sosialisasi konsumsinya. Jangan terlambat lagi," kata Yudhatama.
Contingency plan, katanya, juga termasuk memastikan ketersediaan pangan yang cukup sesuai dengan waktu dan karakteristik wilayah yang memerlukan sistem pengelolaan cadangan pangan baik di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga desa dan bahkan komunitas agar dapat digunakan sebagai sumber pangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Mengupayakan ketahanan pangan lokal melalui Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) merupakan salah satu bentuk resiliensi masyarakat/komunitas yang bisa dilakukan dalam menghadapi situasi krisis pangan," katanya.
Sayangnya, keberadaan LPM yang merupakan salah satu kearifan lokal telah semakin langka karena tergerus perkembangan ekonomi global dan gaya hidup manusia modern yang semakin masif. Di Jawa Tengah, misalnya, LPM baik yang diinisiasi oleh pemerintah maupun masyarakat telah banyak yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sebagian lagi bahkan sudah tidak terlacak karena punah ditelan perubahan.
"Lembaga seperti itu harus dihidupkan kembali," kata Yudhatama.
Petani Rugi Terus
Sementara itu, pakar pertanian dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Surabaya, Zainal Abidin, mengatakan krisis pangan sudah lama diprediksi bakal terjadi. Untuk menghadapinya, tidak ada jalan lain adalah dengan memiliki kemandirian dan kedaulatan pangan.
"Baik karena perang, persaingan, lahan menyusut, dan cuaca (perubahan iklim), krisis pangan suatu saat pasti terjadi. Maka itu, setiap negara sudah jauh hari harus siap-siap. Apalagi sebagai negara yang pernah swasembada, seharusnya kita mengejar kemandirian yang kemudian bisa meningkat menjadi kedaulatan pangan," kata Zainal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!