Perlu Mendorong Solidaritas Pangan Dunia
📅 Kamis, 30 Jun 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Berbagai sumber - Koran Jakarta/Ones/And
» Ancaman krisis pangan jadi pelajaran agar negara tidak bergantung pada impor pangan.
» G20 perlu bersepakat untuk tidak menerapkan kebijakan proteksi komoditas pangan.
JAKARTA - Di tengah ancaman kelaparan dunia akibat krisis pangan, beberapa kalangan mengusulkan perlunya mendesain solidaritas pangan global. Solidaritas itu penting karena setelah terjadi kelangkaan pasokan akibat produksi dan jalur distribusi terganggu, beberapa negara produsen mengambil kebijakan proteksi pangan nasional dengan menghentikan ekspor.
Menanggapi kondisi tersebut, Dewan Penasihat Institut Agroekologi Indonesia (INAGRI), Ahmad Yakub, mengatakan selama ini pendekatan supply chain pangan dunia adalah dengan mekanisme pasar dan persaingan bisnis multinasional. Hal itu mengakibatkan
Sebaiknya Anda baca juga:
kedaulatan pangan tiap negara terganggu, mulai dari input produksi, proses, teknologi, dan pascaproduksi yang dikuasai oleh beberapa perusahaan besar dunia.
"Pemerintah yang tergabung dalam G20 bisa mengimbangi dampak ekonomi sosial politik yang sudah menggurita ini dengan mendesain solidaritas pangan dunia, pendekatan pembangunan dan pemenuhan hak atas pangan," kata Ahmad Yakub kepada Koran Jakarta, Rabu (29/6).
Kebijakan pembangunan pangan dunia haruslah dipimpin oleh lembaga pemerintah dengan mengutamakan kepentingan hak atas pangan, baik produsen pangan, yaitu petani kecil, nelayan, masyarakat adat dan peternak kecil serta tentunya konsumen berpendapatan rendah.
Sebaiknya Anda baca juga:
G20 dapat memimpin untuk menyelenggarakan pembangunan pertanian yang agroekologis, berkelanjutan dengan teknologi yang ramah lingkungan, ramah modal, dan produktivitas tinggi.
"Demikian juga mengawal agar adanya mekanisme perdagangan pangan dunia yang lebih adil dan supply chain yang setara antarnegara di dunia. Indonesia bisa menularkan semangat gotong royong dalam menghadapi situasi ekstrem rawan pangan. Untuk itu, perlu kerja sama pembangunan yang berbasis solidaritas dan sosial bisnis," kata Yakub.
Diminta terpisah, pakar pertanian dari UPN Veteran Jatim, Surabaya, Zainal Abidin, mengatakan usulan agar negara-negara anggota G20 perlu bersepakat untuk tidak menerapkan kebijakan proteksi komoditas pangan memang baik, namun sulit diterapkan karena tentu negara-negara pengekspor akan mengutamakan kebutuhan internalnya.
"Itu akan baik kalau bisa diterapkan, tapi rasanya akan sulit karena mereka tentu mengutamakan kebutuhannya sendiri terlebih dulu. Ironis, kita negara agraris, tapi masuk sepuluh net importir terbesar dunia," kata Zainal.
Bergantung pada Impor
Sementara itu, sekitar 70 persen pasokan pangan dunia dikuasai oleh sepuluh negara pengekspor. Maka, ancaman krisis pangan ini menjadi pelajaran bagi negara yang menggantungkan ketahanan pangannya dari impor.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!