Lukisan Favorit Saya, KH Abdurahman Wahid Alias Gus Dur
📅 Rabu, 13 Mei 2020, 01:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: istimewa
Dari sekian banyak karya, Hardi mengaku, lukisan tentang Gus Dur lah yang dianggapnya paling favorite. Sosok yangdikagumi itu dilukis dengan kostum Raja Sultan Agung atau Raja Jawa Kasunanan. Lukisan Presiden Ke-4 RI Abdurahman Wahid atau Gus Dur itu diberi judul "Guru Bangsa Kanjeng Gusti Abdurahman Wahid, Senopati Kalifatulah, Panotosomo ing Nusantara". Lukisan tersebut selesai dilukis pada 16 Februari 2018.
"Ini lukisan tentang tokoh sejarah Indonesia yang memiliki andil besar dalam kebersamaan dan keberagaman bangsa Indonesia. Gus Dur saya kenal beliau. Jelas beliau benar-benar memihak keberagaman itu," kata Hardi Mengap lukisan tentang Gus Dur begitu dikaguminya, sebab Hardi melukisnya dengan rasa suka cita.
"Ini sebagai ziarahku kepada Gus Dur sebagai Guru Bangsa kita. Itu saja," ucap Hardi tentang alasannya melukis guru bangsa itu.
Hardi menceritakan pengalaman pribadinya dengan Gus Dur. Sebulan setelah Gus Dur lengser, pelukis itu diajak Kang Sobary (Mohammad Sobary) untuk mengunjungi Gus Dur di kediamannya di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan.
"Kediaman Gus Dur biasa, bukan seperti rumah pengusaha konglomerat. Beliau menyambut dengan ramah sekali. Beliau langsung mengatakan: Mas Hardi, sampean bagaimana baru sekarang nongol. Lalu saya bilang: Kenapa Gus? Kalau presiden bisa ngasihngasih," kenang Hardi.
Gus Dur masih ingat Hardi pernah mewawancarai dirinya di Hotel Horison. Panjang transkripsi wawancara tersebut empat halaman. Gus Dur sangat senang dengan wawancara tersebut.
"Gus Dur bilang sampean merepotkan saya terus. Kenapa Gus? Saya tanya begitu lagi. Itu banyak mahasiswa datang ke sini minta foto kopi hasil wawancaranya itu," tuturnya.
"Saya dan Kang Sobary kagum. Ini orang luar biasa merakyatnya. Kita makan ubi rebus. Saya tidak mengakungaku sahabat Gus Dur," kenang Hardi. Hardi menuturkan Gus Dur pernah menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta. Saat itu ia sukai menemui Gus Dur. Apalagi saat itu Hardi menjadi Direktur acara di TIM.
"Beliau sering meminta bantuan saya untuk mengantarnya ke Jalan Minangkabau atau Salemba. Untuk itu, upahnya ditraktir soto di TIM," ujar Hardi mengenang peristiwa itu.
Sebagai pelukis, seniman, dan aktivis seni, Hardi juga mengagumi tokoh bangsa seprti Mohamad Hatta atau Bung Hatta, orang yang sangat bersih dalam hidupnya.
Sebagai pejabat ia hidup sangat sederhana, tidak korup, bahkan pada tahun 1970-an beliau sudah mengingatkan korupsi telah menjadi budaya. Selain Bung Hatta dan Gus Dur, tokoh sejarah lain yang telah dilukis Hardi adalah Kanjeng Sultan Agung Hanyukrokusumo yang menjadi Raja Mataram pada 1613- 1645. Judulnya "Sultan Agung adalah Raja Nusantara yang berani melawan VOC." katanya. suradi/AR-3
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!