Wamenkomdigi Tegaskan: Tanpa Kolaborasi Lintas Sektor, Hoaks Akan Terus Menggerogoti Publik!
📅 Jumat, 28 Nov 2025, 22:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah
JAKARTA – Meredam hoaks menjadi kebutuhan mendesak dalam menjaga stabilitas sosial dan kualitas demokrasi.
Informasi palsu yang beredar cepat di ruang digital dapat memicu kepanikan publik, merusak reputasi, serta mengganggu proses pengambilan keputusan, baik di level individu maupun pemerintahan.
Upaya penanggulangan hoaks membutuhkan literasi digital yang kuat, mekanisme verifikasi informasi yang mudah diakses, serta kolaborasi antara pemerintah, platform digital, dan masyarakat.
Dengan ekosistem informasi yang lebih sehat, risiko polarisasi dan disinformasi dapat ditekan, sehingga ruang publik tetap produktif dan konstruktif.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan kolaborasi lintas sektor menjadi langkah penting untuk meredam hoaks yang mengganggu ruang digital.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kita melihat misinformasi dan disinformasi tumbuh subur di media sosial dan membawa ancaman mulai dari kohesi sosial sampai kehidupan berbangsa,” kata Nezar dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (28/11).
Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki 143 juta pengguna aktif media sosial dan 230 juta pengguna internet. Kondisi ini dinilai membuat ruang digital menjadi arena interaksi sosial, ekonomi, dan politik yang diikuti oleh lonjakan penyebaran hoaks.
“Sepanjang 2024 terdapat 1.923 konten hoaks yang ter-capture (tertangani) oleh Kemkomdigi. Itu puncak gunung es. Sesungguhnya tentu saja lebih banyak,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Nezar menyoroti temuan survei bahwa 11,9 persen responden mengakui pernah menyebarkan hoaks. Dia menilai persoalan hoaks bukan hanya pada suplai konten menyesatkan, tetapi juga kerentanan di masyarakat.
“Seseorang mungkin tahu berita itu palsu tetapi tetap membagikannya karena faktor lain seperti motivasi partisan atau emosi,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa hoaks kesehatan menjadi yang paling banyak disebar di platform digital. Banyak penyebaran hoaks kini memakai teknik manipulasi berbasis kecerdasan artifisial.
“Video AI generatif itu makin smooth (halus). Bahkan para expert (ahli) pun kadang-kadang terkecoh. Ini memperparah penyebaran hoaks di sektor kesehatan dan sektor lain,” jelasnya.
Nezar menekankan pentingnya literasi digital sebagai fondasi pencegahan. Peran pemeriksa fakta juga dinilai penting sebagai elemen mitigasi.
“Literasi digital itu berkorelasi dengan kemampuan seseorang membedakan antara berita benar dan berita palsu,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!