Sejarah Kelam Perburuan Trenggiling yang Bikin Satwa ini Nyaris Punah
📅 Senin, 10 Jul 2023, 10:57 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock/Arief Budi Kusuma
Gono Semiadi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Ni Luh Putu Rischa Phadmacanty, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Wirdateti, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Awal Juni silam, polisi menyita 282 kg sisik trenggiling di Medan, Sumatra Utara. Sebulan sebelumnya, aparat juga menyita 360 kg sisik trenggiling di Kalimantan Selatan.
Trenggiling sitaan di Medan dan Kalimantan Selatan termasuk jenis satwa dilindungi yaitu trenggiling Sunda/Sunda pangolin atau Manis javanica dalam nama ilmiahnya. Si Manis adalah satu dari empat jenis trenggiling yang ada di Asia. Ada empat jenis lainnya yang tersebar di Afrika.
Seluruh jenis trenggiling memiliki beragam status konservasi: antara Vulnerable (Rentan) hingga Critically Endangered (Kritis Terancam), tergantung jenisnya.
Khusus trenggiling sunda, statusnya adalah Critically Endangered, alias satu langkah lagi menuju kategori Extinct in the Wild (punah di alam). Selama 1998-2019, populasi trenggiling sunda diperkirakan anjlok hingga 80%.
Sebaiknya Anda baca juga:
Trenggiling adalah satwa yang paling banyak diselundupkan di dunia. Konvensi Internasional tentang Perdagangan Satwa Terancam (CITES) memasukkan seluruh jenis trenggiling dalam Appendix I. Artinya, perdagangan antar negara secara langsung dari alam dilarang. Perdagangan hanya dapat dilakukan lewat hasil penangkaran terdaftar di Sekretariat CITES.
Meski tingginya tekanan perburuan sudah diakui secara internasional, penyelundupan trenggiling masih saja terjadi. Trennya bahkan meningkat seiring naiknya taraf hidup masyarakat Cina--negara pasar terbesar perdagangan trenggiling global. Indonesia diperkirakan kehilangan sekitar 10 ribu individu trenggiling setiap tahun akibat perdagangan ilegal ini.
Sejarah perburuan trenggiling di Indonesia
Sebaiknya Anda baca juga:
Trenggiling sunda merupakan jenis yang dijumpai di Indonesia yaitu di pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Ada juga sedikit populasi di pulau kecil seperti Pulau Bangka, Belitung, dan Nias. Pulau Bali dilaporkan juga sebagai wilayah persebaran trenggiling walaupun kesahihannya masih perlu dibuktikan.
Trenggiling menghuni hutan alam primer dan sekunder. Mereka menyukai wilayah yang cenderung lembab, kaya akan serasah dan pohon lapuk. Mamalia pemakan semut dan tak bergigi ini juga mampu hidup di kebun sawit, tapi menjadi petaka karena trenggiling semakin mudah diburu dan diangkut.
Pengetahuan tentang sifat biologi trenggiling masih belum terkuak luas, khususnya spesies di Asia. Ironisnya, kebanyakan trenggiling hanya diketahui dari gambaran hasil sitaan.
Sepanjang sejarah, trenggiling telah diburu secara rutin. Semua ini tidak terlepas dari keyakinan masyarakat tradisional di Indocina (dari Myanmar, Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand), Cina, hingga Korea bahwa sisik trenggiling manjur memperlancar tekanan darah, memperlancar pasokan air susu ibu, dan lainnya. Trenggiling sebagai bahan racikan obat pun tercatat dalam buku ramuan tradisional (Pharmacopoeia).
Catatan sejarah menunjukkan bahwa perdagangan sisik trenggiling dari seluruh dunia sudah terjadi dan tercatat sejak tahun 1860 ke Cina.
Yang menarik, ekspor trenggiling dari Indonesia ke Hong Kong sudah tercatat sejak 1925 bahkan kemungkinan lebih awal lagi. Menurut catatan itu, pengiriman sepikul (60kg) sisik trenggiling dari Batavia ke Hong Kong dihargai senilai 125 gulden atau setara dengan Rp 18,5 juta saat ini.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!