Sawah Bertambah, Produksi Padi Sumsel Siap Tancap Gas!
📅 Jumat, 23 Mei 2025, 20:05 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ Feny Selly
PALEMBANG - Mencetak sawah baru sangat penting karena dapat mendukung ketahanan pangan nasional, mengurangi ketergantungan pada impor, dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor pertanian.
Dengan memperluas areal sawah, produksi beras bisa meningkat, sehingga Indonesia lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Pemprov Sumsel) menargetkan mencetak sawah baru seluas 48 ribu hektare pada 2025 guna meningkatkan produksi padi di wilayah itu.
Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura Sumsel Bambang Pramono di Palembang, Jumat (23/5), mengatakan untuk cetak sawah, pihaknya telah melaksanakan kontrak investigasi serta Survei Investigasi dan Desain (SID) pada Maret 2025.
Ia menjelaskan kontrak SID pada Maret 2025 itu seluas 5.000 hektare, kemudian pada 14 Mei seluas 11.600 hektare, dan tanggal 19 Mei ada 6.000 hektare dan 5.000 hektare.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Terakhir kontrak SID 20.400 hektare pada awal Juni 2025, sehingga totalnya 48 ribu hektare,” jelasnya.
Ia mengatakan Kementerian Pertanian juga mendorong agar lahan yang telah selesai kontrak SID segera dilaksanakan kontrak konstruksinya, sehingga disepakati bersama kabupaten/kota untuk proses konstruksi akan mulai dilaksanakan pada pekan mendatang.
“Jadi mengejar untuk konstruksi cetak sawah pada pada lahan yang sudah kontrak SID seluas 5.000 hektare, tanpa menunggu semua (kontrak SID) selesai,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan program cetak sawah tersebut, pemerintah pusat menargetkan Sumsel dapat menambah jumlah produksi sebanyak 1 juta ton gabah kering giling (GKG). Sedangkan, produksi Sumsel saat ini hampir mencapai 3 juta ton GKG atau mencapai 2,94 juta ton GKG.
Untuk wilayah tertinggi dalam program cetak sawah di Sumsel terdiri dari Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Komering Ulu Timur, dan Ogan Ilir dengan rata-rata luasan 11.200 sampai 11.600 hektare.
“Cetak sawah ini tentu berproses untuk memiliki tingkat produksi maksimal seperti lahan yang sudah ada. Mungkin awal tahun pertama nanti bisa 3 ton mendekati 4 ton, kemudian di tahun kedua bisa mendekati 5 ton,” kata Bambang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!