Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

RI Harus Kurangi Kebergantungan pada Ekonomi Tiongkok

📅 Jumat, 06 Mar 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
RI Harus Kurangi Kebergantungan pada Ekonomi Tiongkok Doc: afp
Ket. Sumber: China’s National Bureau of Statistics, NPC

BEIJING - Tiongkok menetapkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 sebesar 4,5 hingga 5 persen, menandai penurunan tertinggi pertama sejak tahun 2023. Hal itu disampaikan Perdana Menteri Tiongkok, Li Qiang dalam laporan kinerja Pemerintah ketika sesi pembukaan Kongres Rakyat Nasional (NPC) pada hari Kamis (5/3).

Langkah tersebut juga menandakan pandangan yang lebih hati-hati seiring dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu yang bergulat dengan tekanan deflasi, penurunan properti yang berkepanjangan, dan meningkatnya ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS).

Range target pertumbuhan 4,5 hingga 5 persen juga merupakan target pertumbuhan terendah sejak tahun 1991.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kita jarang menghadapi kondisi yang begitu serius dan kompleks, di mana guncangan dan tantangan eksternal terkait dengan kesulitan dalam negeri dan pilihan kebijakan yang sulit,” kata Li.

Perekonomian Tiongkok kata Li tumbuh 5 persen pada 2025, salah satu tingkat pertumbuhan paling lambat dalam beberapa dekade. Data resmi yang dirilis pada Januari, PDB negara tersebut mencapai lebih dari 140 triliun yuan (sekitar US$20,3 triliun), seiring dengan upaya para pejabat untuk mengatasi rendahnya belanja konsumen dan krisis utang di sektor properti negara tersebut.

Pemerintah Tiongkok telah “mempertimbangkan perlunya memberikan ruang bagi penyesuaian struktural, pencegahan risiko, dan reformasi pada tahun pertama periode rencana lima tahun ini, sehingga dapat meletakkan dasar yang kuat untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik di tahun-tahun mendatang.

Xu Tianchen, ekonom senior di Economist Intelligence Unit di Beijing, mengatakan kepada CNA bahwa target pertumbuhan “realistis dan sepenuhnya sesuai ekspektasi”.

Mitra Dagang Terbesar

Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB Suhartoko mengatakan, pertumbuhan ekonomi Tiongkok berdampak besar bagi Indonesia sebagai mitra dagang terbesar.

Dampak besar itu papar dia terutama melalui peningkatan investasi infrastruktur/hilirisasi (nikel, EV) dan ekspor komoditas (energi, mineral). Dengan perlambatan ekonomi Tiongkok, maka berpotensi menekan ekspor dan ekonomi Indonesia.

Hubungan dagang yang kuat membuat ekspor Indonesia, terutama sektor energi dan mineral, sangat bergantung pada permintaan Tiongkok. Saat ekonomi Tiongkok tumbuh, permintaan komoditas meningkat, mendorong ekspor Indonesia.

“Jika ekonomi Tiongkok melambat turun 1 persen, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi melambat sekitar 0,29-0,3 persen karena penurunan ekspor,” kata Suhartoko.

Meskipun membantu mempercepat pembangunan, dominasi investasi Tiongkok menimbulkan kekhawatiran terkait risiko ekonomi jangka panjang dan kebergantungan,”tegas Suhartoko.

Target pertumbuhan ekonomi Tiongkok sebesar 4,5–5 persen pada 2026 menunjukkan bahwa pemerintah negara tersebut berupaya menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Berpotensi Melemah Lanjutan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.