Pemprov Jabar Siaga Penuh Tunggu Instruksi Evakuasi WNI di Timur Tengah
📅 Rabu, 04 Mar 2026, 06:42 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA
BANDUNG – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyatakan posisi siaga penuh menunggu instruksi untuk melakukan evakuasi massal terhadap warga Jabar di negara-negara Timur Tengah, menyusul eskalasi konflik bersenjata antara blok AS-Israel melawan Iran yang kian mencekam.
Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar, Herman Suryatman, menegaskan bahwa otoritas daerah kini berada dalam komando tunggal Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI guna mengantisipasi skenario terburuk pascaserangan skala besar yang melanda kawasan tersebut sejak Sabtu (28/2).
"Seluruh informasi terkait evakuasi WNI disampaikan melalui kanal khusus yang disiapkan pemerintah pusat. Per hari ini (03/3), belum ada perintah resmi evakuasi dari Kemenlu, namun kita terus bersiap," ujar Herman Suryatman di Bandung, Selasa.
Guna memastikan respons cepat, Pemprov Jabar melalui Badan Penghubung telah diintegrasikan ke dalam grup komunikasi strategis "Evakuasi Pemulangan Timur Tengah" yang dikendalikan langsung oleh pemerintah pusat.
Langkah ini diambil untuk memastikan sinkronisasi data dan waktu gerak jika tombol evakuasi ditekan oleh Jakarta. Saat ini, fokus utama adalah pemetaan presisi jumlah warga Jabar yang tersebar di titik-titik rawan ledakan konflik.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kami sedang menarik data detail jumlah warga Jabar yang berada di wilayah terdampak dari masing-masing KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia)," ujar Herman.
Situasi di lapangan dilaporkan sangat fluktuatif, terutama di negara-negara seperti Qatar, Bahrain, Yordania, hingga Arab Saudi pascaserangan rudal balasan Iran ke pangkalan militer Amerika Serikat.
Herman menjelaskan bahwa KBRI Teheran saat ini tengah mematangkan rencana kontijensi atau rencana darurat untuk menjamin keselamatan WNI. Meski tensi meningkat tajam, perwakilan RI di zona konflik masih memprioritaskan imbauan kewaspadaan tingkat tinggi sebelum instruksi pemulangan massal diterbitkan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Informasi yang kami terima, perwakilan RI di sana fokus pada imbauan kewaspadaan tingkat tinggi," tuturnya.
Diketahui, operasi gabungan antara AS dan Israel melancarkan serangan skala besar ke Iran sejak Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat. Serangan tersebut menyebabkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta beberapa petinggi militer Iran tewas.
Menanggapi serangan itu, Iran melancarkan serangan balasan ke Israel dan sejumlah pangkalan militer serta aset milik AS di beberapa negara Teluk seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, hingga Arab Saudi.
Setelah menyerang pangkalan militer AS di Arab Saudi, Iran memperluas target serangan dengan menyasar fasilitas AS lainnya di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah Arab Saudi menyatakan pada Selasa (3/3/2026) pagi bahwa Kedutaan Besar AS di Riyadh diserang dua drone. Insiden tersebut menyebabkan kebakaran terbatas dan kerusakan kecil.
Sejumlah negara kemudian meminta warganya untuk keluar dari Arab Saudi. Namun proses evakuasi tidak mudah dilakukan karena sebagian besar wilayah udara ditutup sehingga banyak orang terjebak.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!